Cuaca Panas di Solo
Penyebab Cuaca Panas Terasa Menyengat di Solo, Benarkah karena Erupsi Merapi? Ini Penjelasan BMKG
Tak cuma warga Solo, beberapa warga di wilayah di Indonesia merasakan suhu udara yang cukup panas dan gerah.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Sejumlah warga Solo Raya, Jawa Tengah, mengeluhkan cuaca panas yang menyengat dibandingkan biasanya akhir-akhir ini.
Tak cuma warga Solo, beberapa warga di wilayah di Indonesia merasakan suhu udara yang cukup panas dan gerah.
Fenomena ini menjadi perbincangan hangat di jagat media sosial, khususnya di platform X (Twitter).
Baca juga: Prakiraan Cuaca Solo Hari Ini Senin 29 September 2025: 5 Kecamatan Diprediksi Hujan Ringan
Banyak yang bertanya-tanya, apa sebenarnya penyebab cuaca panas yang menyelimuti Solo akhir-akhir ini? Apakah udara panas ini merupakan pertanda musim hujan akan segera tiba?
Menurut Supari, peneliti di Bidang Analisis Variabilitas Iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), penyebab utama cuaca panas yang melanda Solo dan wilayah lainnya adalah minimnya pembentukan awan hujan.
Fenomena ini terjadi karena adanya pusat tekanan rendah yang terbentuk di utara Indonesia, termasuk badai tropis Bualoi.
Kondisi ini menyebabkan uap air yang biasanya terkumpul di wilayah Indonesia malah tertarik ke arah Laut China Selatan dan perairan timur Filipina.
Baca juga: 3 Rekomendasi Es Legendaris di Kota Solo Jateng, Cocok Temani saat Cuaca Panas
Akibatnya, awan-awan yang biasanya membawa hujan jarang terbentuk di Pulau Jawa, khususnya di Solo dan sekitarnya.
Langit yang relatif cerah memungkinkan sinar matahari langsung menyinari permukaan bumi, sehingga suhu udara menjadi lebih panas dan terasa gerah.
Masyarakat seringkali menganggap udara panas dan gerah adalah pertanda hujan akan segera turun.
Namun, BMKG menegaskan hal ini tidak selalu benar.
Supari menjelaskan bahwa suhu panas menjelang musim hujan sering terjadi karena awan hujan yang belum cukup terbentuk.
Baca juga: Pemkab Klaten Gandeng BNPB Atasi Kekeringan di Lereng Gunung Merapi, Hamenang: Salah Satu Prioritas
Dengan kondisi langit yang bersih dan minim awan, energi matahari langsung menembus hingga ke permukaan bumi, menyebabkan udara terasa panas dan pengap. Fenomena ini biasanya terjadi pada masa peralihan musim, namun bukan berarti hujan akan langsung turun keesokan harinya.
Proyeksi Cuaca di Solo dan Wilayah Sekitarnya
BMKG memproyeksikan bahwa cuaca panas yang dirasakan saat ini hanya bersifat sementara.
Curah hujan diperkirakan akan kembali meningkat setelah badai tropis Bualoi dan pusat tekanan rendah di Laut China Selatan melemah atau hilang.
Dengan demikian, masyarakat Solo dan daerah sekitarnya diimbau untuk tetap waspada dan menjaga kesehatan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan di tengah cuaca terik yang menyengat.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/ILUSTRASI-Suasana-langit-dengan-c.jpg)