Koridor Gatsu Solo
Asal-Usul Nama Solo Is Solo: Bukan Sekadar Festival, tapi Gerakan Budaya Anak Muda
Di balik meriahnya mural dan geliat seni jalanan Koridor Gatsu Solo, ada kelompok yang meniupkan napas pada kegiatan itu.
Penulis: Ryantono Puji Santoso | Editor: Hanang Yuwono
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ryantono Puji Santoso
TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Koridor Gatsu Solo di Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, kini dikenal sebagai wadah kreatif untuk para seniman di Solo.
Di balik meriahnya mural dan geliat seni jalanan Koridor Gatsu Solo, ada kelompok yang meniupkan napas pada kegiatan itu.
Kelompok ini bernama Solo Is Solo.
Baca juga: Gagasan Nyeleneh Gibran di Koridor Gatsu Solo: Mural di Zebra Cross yang Belum Terwujud
Tersimpan filosofi mendalam dari nama Solo Is Solo, gerakan kreatif yang lahir bukan sekadar untuk menggelar festival, tetapi untuk menegaskan jati diri budaya kota.
Direktur Solo Is Solo, Irul Hidayat, menjelaskan bahwa banyak orang menilai program ini hanya sebagai festival mural biasa, padahal sejak awal memiliki roh dan semangat yang berbeda.
“Solo Is Solo tidak bisa dilihat sepotong. Sekarang banyak yang melihat hanya hasilnya, padahal perjalanannya panjang. Ada roh yang beda, mulai dari masa Pak Rudy sampai Respati di 2025 ini,” ujar Irul dalam podcast bersama TribunSolo.com, Jumat (17/10/2025).
Menurutnya, ide nama itu muncul ketika Pemerintah Kota Solo melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ingin menggelar festival mural.
Baca juga: Pertunjukan Musik Jalanan Solo Is Solo Ditagih Royalti, Penyelenggara Bingung: Lagu Karya Band Lokal
Namun, timnya menolak menyebutnya sebagai festival karena sudah terlalu banyak kegiatan di Solo yang memakai label serupa.
“Waktu itu tren di Solo ada hampir 90 festival dalam setahun, semua disebut festival. Kami enggak mau. Jadi kami sebut Solo Is Solo, bukan festival, tapi program budaya,” jelasnya.
Nama Solo Is Solo juga dipilih sebagai pernyataan identitas bahwa Solo memiliki karakter sendiri, tidak perlu terus dibandingkan dengan kota lain.
“Dulu sering dibandingkan dengan Jogja atau Bandung. Dibilang Solo gak kayak Jogja. Padahal Solo itu ya Solo. Jadi kami pakai bahasa Inggrisnya: Solo is Solo. Ini penegasan bahwa Solo punya karakter dan arah sendiri,” tutur Irul.
Baca juga: Setelah Viral, Jalan Penuh Mural di Segorogunung Karanganyar Jadi Objek Wisata Dadakan
Ia menambahkan, karakter visual seniman Solo juga unik.
Anak-anak muda Solo cenderung menyukai gaya dekoratif dan penuh warna, yang menjadi ciri khas tersendiri dibandingkan kota lain.
“Sekarang kita punya karakter visual yang kuat. Anak Solo senang dekoratif, beda dari yang lain. Dan itu yang ingin kami rayakan lewat gerakan ini,” kata Irul.
Lebih dari sekadar acara seni, Solo Is Solo kini menjadi simbol konsistensi dan kreativitas warga kota yang terus hidup di jalanan, dinding, dan ruang-ruang publik.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Warga-tengah-berfoto-di-sekitar-lukisan-mural-wajah-Jokowi.jpg)