Hari Buruh 2026

Aria Bima Nilai Ekonomi RI Melemah, Waspadai Rupiah Tembus Rp17.500

Politisi PDI Perjuangan, Aria Bima, menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang tidak dalam keadaan baik.

Tayang:
Penulis: Andreas Chris Febrianto | Editor: Tri Widodo
TribunSolo.com/Andreas Chris Febrianto
UTANG. Anggota DPR RI dari fraksi PDI-P ditemui di Solo pada Minggu (3/5/2026). Dia menyebut memiliki utang kepada 8 ribu lebih buruh eks pekerja PT Sritex. 

Ringkasan Berita:
  • Politisi PDIP Aria Bima menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak baik dan cenderung stagnan.
  • Pertumbuhan ekonomi disebut hanya ditopang konsumsi, sementara sektor lain seperti investasi dan ekspor melemah.
  • Aria Bima mendorong pemerintah fokus membuka lapangan kerja serta memperkuat sektor UMKM sebagai penopang ekonomi di tengah situasi yang tidak menentu.

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Politisi PDI Perjuangan, Aria Bima, menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang tidak dalam keadaan baik.

Ia bahkan menyebut pertumbuhan ekonomi nasional mengalami stagnasi.

Menurut Aria Bima, pertumbuhan ekonomi saat ini lebih banyak ditopang oleh konsumsi masyarakat, sementara sektor lain seperti investasi, ekspor-impor, hingga pendanaan negara justru menunjukkan perlambatan.

Baca juga: Beda Pendapat Fraksi PDIP dan Pemkot Solo soal Pegawai Non-ASN Terafiliasi Politik

Baca juga: Aria Bima Janji Dorong Penjualan Aset Sritex Sukoharjo, Enggan Jabarkan Situasi Negosiasi

“Kalau dilihat dari komponen produk domestik bruto, hampir semuanya macet kecuali konsumsi,” ujarnya saat menghadiri Diskusi Hari Buruh di Pasar Legi, Solo, Minggu (3/5/2026).

Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya berada di atas 5 persen kini turun menjadi sekitar 3 hingga 4 persen.

Bahkan, angka tersebut sebagian besar didorong oleh sektor informal.

Selain faktor domestik, Aria Bima juga menyoroti dampak kondisi global, khususnya ketegangan di Selat Hormuz, yang dinilai dapat memperburuk situasi ekonomi Indonesia. Ia memperingatkan potensi inflasi jika kondisi tersebut terus berlanjut.

“Kalau nilai tukar rupiah sampai Rp17.500 per dolar, itu sudah sulit dibayangkan. Apalagi harga minyak dunia sudah di atas 100 dolar per barel, sementara kebutuhan impor kita mencapai 1 juta barel per hari,” jelasnya.

Kenaikan harga bahan bakar, lanjutnya, akan berdampak langsung pada meningkatnya biaya logistik dan harga barang.

Meski demikian, Aria Bima menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh mengabaikan kondisi ini.

Ia menekankan pentingnya membuka lapangan kerja, sesuai amanat konstitusi.

“Setiap warga negara berhak mendapatkan pekerjaan yang layak. Jika masih ada pengangguran, itu menjadi tanggung jawab negara,” tegasnya.

Pada momentum Hari Buruh, ia juga meminta perhatian lebih terhadap sektor informal, khususnya UMKM.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved