Sejarah Kuliner Legendaris

Sejarah Mie Nyemek, Kuliner Malam yang Populer di Solo

Istilah ini menggambarkan karakter kuah mie nyemek yang kental, berada di tengah-tengah antara bakmi goreng dan bakmi kuah.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Tribunnews
SEJARAH KULINER LEGENDARIS - Sajian Mie Nyemek Jayengan Pak Tres, Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Ini sejarah mie nyemek, kuliner malam yang populer. 
Ringkasan Berita:
  • Mie Nyemek adalah kuliner khas Jawa yang populer di Solo, terutama sebagai santapan malam. Ciri utamanya kuah kental “nyemek”, berada di antara mie goreng dan mie kuah.
  • Berakar dari bakmi Jawa, mie nyemek lahir dari improvisasi pedagang malam dengan bumbu sederhana, mencerminkan keseimbangan rasa dan kearifan lokal.
  • Di Solo, mie nyemek hadir dalam banyak inovasi dan warung legendaris seperti Pak Tres, Pak Pe, dan Bakmi Pak Ndut, masing-masing dengan cita rasa khas.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Mie Nyemek merupakan salah satu kuliner khas Jawa yang kini semakin populer di Kota Solo.

Meski berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, hidangan ini telah menjadi bagian penting dari budaya kuliner masyarakat Solo, terutama sebagai menu favorit santapan malam hari.

Nama “nyemek” diambil dari bahasa Jawa yang berarti tidak basah dan tidak kering.

Baca juga: Sejarah Sate Kambing hingga Bisa jadi Kuliner Khas Solo, Mulai Dikenal Sejak Kerajaan Majapahit

Istilah ini menggambarkan karakter kuah mie nyemek yang kental, berada di tengah-tengah antara bakmi goreng dan bakmi kuah.

Keunikan inilah yang membuat mie nyemek berbeda dari sajian mie lainnya di Indonesia.

Menu mie nyemek pedas di Wedangan Pak Tres Solo. Menu ini jadi favorit pecinta kuliner malam hari di Kota Solo.
KULINER SOLO - Menu mie nyemek pedas di Wedangan Pak Tres Solo. Menu ini jadi favorit pecinta kuliner malam hari di Kota Solo. (INSTAGRAM/tresna_158)

Akar Sejarah Mie Nyemek

Secara historis, mie nyemek berakar dari tradisi bakmi Jawa yang telah lama dikenal masyarakat.

Hidangan ini diyakini muncul sebagai hasil improvisasi para pedagang bakmi Jawa yang ingin menghadirkan variasi baru bagi pelanggannya.

Alih-alih menyajikan bakmi kuah yang berlimpah atau bakmi goreng yang kering, mereka menciptakan versi “tengah-tengah” yang kemudian dikenal sebagai mie nyemek.

Baca juga: Sejarah Lemet Singkong atau Utri, Jajanan Legendaris di Solo Raya Kini Mulai Langka

Mie nyemek pertama kali populer di Yogyakarta dan wilayah Jawa Tengah, dijajakan oleh pedagang bakmi Jawa yang umumnya berjualan pada malam hari.

Seiring waktu, popularitasnya menyebar ke berbagai kota, termasuk Solo, yang dikenal sebagai kota dengan kekayaan kuliner tradisional.

Ciri Khas dan Filosofi Rasa

Ciri utama mie nyemek terletak pada kuahnya yang kental namun tidak berlebihan.

Kuah ini berasal dari kaldu ayam yang dipadukan dengan bumbu-bumbu sederhana khas Jawa, menciptakan rasa gurih yang hangat dan bersahaja.

Dalam satu porsi mie nyemek biasanya terdapat mie telur kuning, telur orak-arik, potongan ayam, sawi hijau, tomat, serta sentuhan kecap manis.

Kesederhanaan bahan tersebut mencerminkan kearifan lokal masyarakat Jawa yang mengutamakan keseimbangan rasa dan kebersamaan.

Baca juga: Sejarah Pisang Goreng : Dipopulerkan Bangsa Portugis, Kini Disulap jadi Kuliner Modern di Solo

Seiring perkembangan zaman, mie nyemek mengalami banyak inovasi.

Di Solo, mie nyemek tak hanya hadir dalam versi klasik, tetapi juga dikreasikan dengan tambahan bakso, sosis, daging sapi, hingga tingkat kepedasan yang bisa disesuaikan selera.

Meski banyak menggunakan mie instan sebagai bahan dasar, kekuatan mie nyemek tetap terletak pada racikan bumbu dan teknik memasaknya.

Inilah yang membuat setiap warung memiliki cita rasa khas yang berbeda satu sama lain.

Rekomendasi Mie Nyemek di Solo

1. Mie Nyemek Jayengan Pak Tres

Menu mie nyemek di Wedangan Pak Tres, Selasa (5/7/2022) malam.
KULINER LEGENDARIS - Menu mie nyemek di Wedangan Pak Tres, Selasa (5/7/2022) malam. (TribunSolo.com)

Warung yang berada di emperan kios beralamat di jalan Yos Sudarso no. 158 Nonongan, Kota Solo ini mungkin tampak biasa dari luar.

Namun sejak buka pukul 17.30 WIB, warung ini tak pernah sepi karena menu andalan nya yakni mie nyemek pedas selalu jadi buruan pecinta kuliner.

Meski hanya berbahan dasar dari mie instan yang dijual di pasaran, namun karena cara pengolahannya yang ditambah sejumlah bumbu membuat cita rasa mie nyemek di Warung Jayengan Pak Tres ini selalu laris.

Tak hanya mie nyemek, pembeli tak jarang mengkombinasinya dengan sejumlah forengan atau bakaran yang disajikan di warung tersebut.

Baca juga: Sejarah Sayur Asem, Kuliner Asli Nusantara yang Populer di Solo Raya : Otentik dan Legendaris

2. Mie Nyemek Pak Pe 'Wedangan PDT' 

Jika suka cita rasa pedas manis, ada rekomendasi mie nyemek yang dibuat oleh Mulyanto. pemilik Wedangan PDT yang beralamat di jalan Tirtosumirat, Kelurahan Bumi, Kecamatan Laweyan Solo.

Buka dari jam 18.00 WIB, mie nyemek buatan Pak Pe sapaan Mulyanto selalu diserbu pelanggan tiap harinya.

Meski hanya menggunakan bahan dasar mie instan biasa, namun mie nyemek buatan Pak Pe ditambah bumbu rahasia yang membuat cita rasanya semakin menggugah selera.

Dibandrol Rp 10 ribu per porsi, mie nyemek buatan Pak Pe bisa jadi alternatif kuliner malam saat berkunjung di Kota Solo karena buka sampai pukul 01.30 WIB.

3. Mie Nyemek Kalen 'Warung Bakmi Pak Ndut'

Meski tak sepopuler mie nyemek Wedangan Jayengan Pak Tres ataupun mie nyemek Wedangan Pak Pe.

Tapi salah satu menu yang di sajikan di warung yang berada warung Bakmi Pak Ndut di jalan K.H Samanhudi, Purwosari Solo ini bisa jadi alternatif.

Buka sejak sore hingga pukul 03.00 WIB, masyarakat Solo acap kali memilih mie menu mie nyemek di warung tersebut.

Tak seperti mie biasanya, sajian mie nyemek ini memiliki cita rasa khas dan kaya akan aroma rempah-rempah.

Padahal bahan dasarnya hanya mie instan pasaran, namun dioleh dengan tambahan bumbu seperti halnya saat mengolah bakmi Jawa menjadikan cita rasa mie nyemek di sini menggugah selera.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved