Fakta Menarik Tentang Solo
Asal-usul Siti Hinggil Lor dan Kidul di Keraton Solo, Tempat Raja Menerima Rakyatnya
Secara umum, Siti Hinggil berarti “tanah yang tinggi”, sesuai dengan letaknya yang memang dibangun lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Bangsal Siti Hinggil adalah kompleks penting Keraton Solo yang bermakna tanah tinggi, lambangkan kedudukan luhur raja serta hubungan spiritual antara raja, rakyat, dan Tuhan.
- Terdapat Siti Hinggil Lor dan Kidul; Lor berfungsi sebagai tempat raja bertemu rakyat dan menyampaikan sabda, sedangkan Kidul lambangkan kerendahan hati dan akhir perjalanan hidup.
- Siti Hinggil juga menjadi titik temu raja–rakyat, bagian garis spiritual kota, serta lokasi sakral upacara adat dan penghormatan terakhir raja.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Bangsal Siti Hinggil merupakan salah satu kompleks penting yang dimiliki Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Keraton Solo.
Kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai bangunan fisik, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, fungsi politik, serta makna filosofis yang mendalam dalam tradisi Jawa.
Secara umum, Siti Hinggil berarti “tanah yang tinggi”, sesuai dengan letaknya yang memang dibangun lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya.
Baca juga: Asal-usul Kelenteng Tien Kok Sie : Kelenteng Tertua di Solo Sejak 1745, Selamat dari Kerusuhan 1998
Konsep ketinggian ini melambangkan kedudukan luhur dan hubungan antara raja, rakyat, serta Tuhan.
Dua Siti Hinggil: Lor dan Kidul
Di Keraton Kasunanan Surakarta terdapat dua Siti Hinggil, yaitu Siti Hinggil Lor (utara) dan Siti Hinggil Kidul (selatan).
Keduanya memiliki fungsi yang sama, namun peran simbolis dan tata bangunannya berbeda.
Siti Hinggil Lor terletak di sebelah selatan Sasana Sumewa, bangunan terdepan keraton yang dahulu digunakan sebagai tempat raja menghadap para punggawa dalam upacara resmi.
Sementara itu, Siti Hinggil Kidul berada di bagian belakang keraton dan berhadapan langsung dengan Alun-alun Kidul.
Baca juga: Asal-usul Taman Sriwedari Solo, Dibangun Pakubuwono X sebagai Tempat Hiburan yang Megah
Siti Hinggil Lor dan Fungsinya pada Masa Kerajaan
Siti Hinggil Lor memiliki dua gerbang utama, yakni Kori Wijil di sisi utara dan Kori Renteng di sisi selatan.
Di area ini terdapat bangunan kecil yang menyimpan pusaka Meriam Nyai Setomi, peninggalan Mataram Islam, yang dibangun sekitar tahun 1774.
Pada masa lalu, Siti Hinggil Lor menjadi tempat raja menerima rakyatnya.
Ketika raja hendak menyampaikan sabda atau pengumuman penting, rakyat dikumpulkan di Alun-alun Utara, sementara raja berada di Siti Hinggil agar dapat terlihat dan terdengar oleh rakyatnya.
Posisi raja di Siti Hinggil menjadi titik temu simbolis antara pemimpin dan rakyat.
Siti Hinggil Kidul, Simbol Kerendahan Hati dan Akhir Perjalanan
Berbeda dengan Siti Hinggil Lor, Siti Hinggil Kidul dibangun lebih sederhana dan terbuka.
| Solo Terlempar dari 10 Besar sebagai Kota Paling Toleran Indonesia, Terakhir Masuk di Era Gibran |
|
|---|
| Daftar 10 Kota Paling Toleran di Indonesia 2025 Versi SETARA : Solo Tak Masuk 10 Besar |
|
|---|
| Mitos Bulan Dulkangidah Menurut Masyarakat Solo Raya: Kenapa Tak Dianjurkan Menikah di Bulan Ini? |
|
|---|
| 10 Mitos Ibu Hamil Menurut Kepercayaan Jawa, Masih Dipercaya Sebagian Warga Solo Raya |
|
|---|
| Ini Bedanya Bakso Solo, Bakso Wonogiri, dan Bakso Malang : Ternyata Bisa Dilihat dari Teksturnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Menjelang-kirab-kenaikan-tahta-Raja-SISKS-Pakubuwono-XIV.jpg)