Fakta Menarik Tentang Solo

Makna Prosesi Menginjak Telur, Ritual Sakral Pernikahan Adat Jawa yang Masih Eksis di Solo Raya

Di Solo Raya, salah satu prosesi yang masih lestari hingga kini adalah menginjak telur atau wiji dadi, yang merupakan bagian penting pernikahan.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
YouTube Thariq Halilintar
INJAK TELUR - Prosesi nikah adat Jawa saat Aaliyah Massaid cuci kaki Thariq Halilintar pada Jumat (26/7/2024) lalu. Biasanya sebelum prosesi basuh kaki oleh istri, sang suami akan menginjak telur. Tradisi ini masih bertahan di Solo Raya, Jawa Tengah. (YouTube Thariq Halilintar) 

Ringkasan Berita:
  • Wiji Dadi: Mempelai pria menginjak telur pecah sebagai simbol kesiapan memimpin keluarga, menghadapi tantangan, dan memulai kehidupan baru sebagai suami istri.
  • Wijikan: Mempelai wanita membasuh kaki suami dengan air bunga setaman sebagai tanda bakti, pengabdian, dan keharmonisan rumah tangga.
  • Ritual ini sarat filosofi, melambangkan kesuburan, doa untuk keturunan, rezeki, dan nilai tanggung jawab serta kebersamaan dalam rumah tangga.

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pernikahan adat Jawa yang selama ini dilakukan di Solo Raya, Jawa Tengah, terdiri dari prosesi dan ritual yang sakral.

Di Solo Raya, salah satu prosesi yang masih lestari hingga kini adalah menginjak telur atau wiji dadi, yang merupakan bagian penting dalam rangkaian upacara pernikahan.

Pernahkah Tribuners bertanya-tanya apa maksud dari prosesi ini?

Baca juga: Asal-usul dan Mitos Midodareni : Tradisi Sakral Pernikahan Adat Jawa di Solo Raya

Bukan sekadar pelengkap acara, prosesi punya makna mendalam terkait kehidupan yang akan dijalankan suami istri.

Ritual ini tidak hanya menambah keindahan prosesi, namun juga menyimpan pesan moral, doa, dan harapan bagi kehidupan rumah tangga yang akan dijalani pasangan pengantin.

Wiji Dadi: Mempelai Pria Menginjak Telur

Setelah prosesi ijab kabul, calon mempelai pria melakukan ritual Wiji Dadi, yaitu menginjak telur ayam mentah hingga pecah.

Prosesi ini sarat makna filosofis:

  • Kesiapan Memimpin Keluarga

Pecahnya telur melambangkan kesiapan pria memikul tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga.

Ia diharapkan mampu melindungi, menafkahi, dan membimbing keluarga menghadapi tantangan hidup.

  • Awal Kehidupan Baru

Telur yang pecah juga menandai berakhirnya masa lajang dan dimulainya babak baru sebagai pasangan suami istri.

Pecahnya cangkang telur menjadi simbol transisi dari kehidupan individu ke kehidupan berkeluarga.

  • Simbol Kesuburan dan Harapan Keturunan

Dalam tradisi Jawa, telur adalah simbol kehidupan.

Pecahnya telur diyakini menjadi benih kehidupan, melambangkan harapan agar pasangan dikaruniai anak dan rumah tangga yang berkelanjutan.

Bentuk bulat telur melambangkan kehidupan penuh lingkaran masalah yang harus dihadapi pasangan.

Dengan pecahnya telur, calon suami menunjukkan kesanggupan untuk memecahkan berbagai masalah dan memimpin keluarga dengan bijaksana.

PERNIKAHAN ADAT JAWA - Ilustrasi pernikahan adat Jawa saat momen Temu Panggih. GKR Bendoro dan KPH Yudanegara mengikuti prosesi panggih di Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, Selasa (18/10/2011). Beginilah sejarah gending Kebo Giro yang dilantunkan ketika momen sakral Temu Panggih.
PERNIKAHAN ADAT JAWA - Ilustrasi pernikahan adat Jawa saat momen Temu Panggih. GKR Bendoro dan KPH Yudanegara mengikuti prosesi panggih di Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, Selasa (18/10/2011).(Tribunnews.com/TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI))

Wijikan: Tanda Bakti dan Pengabdian Istri

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved