Fakta Menarik Tentang Solo
Makna Prosesi Menginjak Telur, Ritual Sakral Pernikahan Adat Jawa yang Masih Eksis di Solo Raya
Di Solo Raya, salah satu prosesi yang masih lestari hingga kini adalah menginjak telur atau wiji dadi, yang merupakan bagian penting pernikahan.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Wiji Dadi: Mempelai pria menginjak telur pecah sebagai simbol kesiapan memimpin keluarga, menghadapi tantangan, dan memulai kehidupan baru sebagai suami istri.
- Wijikan: Mempelai wanita membasuh kaki suami dengan air bunga setaman sebagai tanda bakti, pengabdian, dan keharmonisan rumah tangga.
- Ritual ini sarat filosofi, melambangkan kesuburan, doa untuk keturunan, rezeki, dan nilai tanggung jawab serta kebersamaan dalam rumah tangga.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pernikahan adat Jawa yang selama ini dilakukan di Solo Raya, Jawa Tengah, terdiri dari prosesi dan ritual yang sakral.
Di Solo Raya, salah satu prosesi yang masih lestari hingga kini adalah menginjak telur atau wiji dadi, yang merupakan bagian penting dalam rangkaian upacara pernikahan.
Pernahkah Tribuners bertanya-tanya apa maksud dari prosesi ini?
Baca juga: Asal-usul dan Mitos Midodareni : Tradisi Sakral Pernikahan Adat Jawa di Solo Raya
Bukan sekadar pelengkap acara, prosesi punya makna mendalam terkait kehidupan yang akan dijalankan suami istri.
Ritual ini tidak hanya menambah keindahan prosesi, namun juga menyimpan pesan moral, doa, dan harapan bagi kehidupan rumah tangga yang akan dijalani pasangan pengantin.
Wiji Dadi: Mempelai Pria Menginjak Telur
Setelah prosesi ijab kabul, calon mempelai pria melakukan ritual Wiji Dadi, yaitu menginjak telur ayam mentah hingga pecah.
Prosesi ini sarat makna filosofis:
- Kesiapan Memimpin Keluarga
Pecahnya telur melambangkan kesiapan pria memikul tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga.
Ia diharapkan mampu melindungi, menafkahi, dan membimbing keluarga menghadapi tantangan hidup.
- Awal Kehidupan Baru
Telur yang pecah juga menandai berakhirnya masa lajang dan dimulainya babak baru sebagai pasangan suami istri.
Pecahnya cangkang telur menjadi simbol transisi dari kehidupan individu ke kehidupan berkeluarga.
- Simbol Kesuburan dan Harapan Keturunan
Dalam tradisi Jawa, telur adalah simbol kehidupan.
Pecahnya telur diyakini menjadi benih kehidupan, melambangkan harapan agar pasangan dikaruniai anak dan rumah tangga yang berkelanjutan.
Bentuk bulat telur melambangkan kehidupan penuh lingkaran masalah yang harus dihadapi pasangan.
Dengan pecahnya telur, calon suami menunjukkan kesanggupan untuk memecahkan berbagai masalah dan memimpin keluarga dengan bijaksana.
Wijikan: Tanda Bakti dan Pengabdian Istri
| Asal-usul Nama Kawasan Baron di Solo: dari Tempat Tinggal Bangsawan, Kini jadi Tempat Kuliner Ikonik |
|
|---|
| Solo Terlempar dari 10 Besar sebagai Kota Paling Toleran Indonesia, Terakhir Masuk di Era Gibran |
|
|---|
| Daftar 10 Kota Paling Toleran di Indonesia 2025 Versi SETARA : Solo Tak Masuk 10 Besar |
|
|---|
| Mitos Bulan Dulkangidah Menurut Masyarakat Solo Raya: Kenapa Tak Dianjurkan Menikah di Bulan Ini? |
|
|---|
| 10 Mitos Ibu Hamil Menurut Kepercayaan Jawa, Masih Dipercaya Sebagian Warga Solo Raya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/prosesi-injak-telur.jpg)