Sejarah di Kota Solo

Asal-usul dan Mitos Midodareni : Tradisi Sakral Pernikahan Adat Jawa di Solo Raya

Istilah Midodareni berasal dari kata “Mido” yang berarti malaikat dan “Dareni” yang berarti menunggu atau menanti.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Surya Malang
TRADISI SAKRAL PERNIKAHAN - Ilustrasi salah satu prosesi pernikahan adat Jawa khas Kota Surakarta di Pagelaran Wedding oleh Mitra Pernikahan Indonesia, di Surabaya, Sabtu (18/5/2019). Beginilah asal-usul dan mitos Malam Midodareni, salah satu tradisi sakral dalam pernikahan adat Jawa khas Solo, Jawa Tengah. 

Ringkasan Berita:
  • Midodareni adalah tradisi malam sebelum pernikahan adat Jawa, terutama bagi pengantin perempuan, yang berarti “menunggu malaikat” dan sarat makna spiritual, doa, serta restu keluarga.
  • Tradisi ini berakar dari legenda Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan, di mana bidadari diyakini turun untuk memberkahi dan mempercantik pengantin.
  • Rangkaian prosesi meliputi Jonggolan, Tantingan, Nebus Kembar Mayang, Catur Wedha, dan Wilujengan Majemukan, lengkap dengan perlengkapan simbolik kedua mempelai.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Dalam pernikahan adat Jawa, termasuk Solo Raya, Jawa Tengah, salah satu tradisi yang selalu dipertahankan hingga kini adalah Midodareni.

Upacara ini digelar pada malam sebelum ijab kabul atau pesta pernikahan, khususnya bagi pengantin perempuan.

Meski terlihat sederhana, Midodareni mengandung nilai budaya, spiritual, dan simbolis yang kaya, serta menghubungkan kehidupan fisik dan spiritual calon pengantin.

Baca juga: Kenapa Banyak Warga Solo Raya Gelar Acara Nikah di Bulan Rajab? Ini Alasan dan Mitos-mitosnya

Makna dan Etimologi Midodareni

Secara etimologis, istilah Midodareni berasal dari kata “Mido” yang berarti malaikat dan “Dareni” yang berarti menunggu atau menanti.

Dengan demikian, Midodareni dapat diartikan sebagai malam menunggu malaikat, malam penuh harapan akan keberkahan, keselamatan, dan kebahagiaan bagi pasangan yang akan menikah.

Dalam tradisi ini, pengantin perempuan ditemani keluarga dan kerabat dekat untuk mendoakan keselamatan dan kebahagiaan calon mempelai.

Asal-usul Midodareni

Tradisi Midodareni memiliki akar kuat dalam legenda Jawa, terutama kisah Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan.

Konon, tujuh bidadari turun dari kahyangan untuk mandi di telaga.

Jaka Tarub, seorang pemuda, tergoda oleh kecantikan mereka dan mencuri salah satu selendang milik Dewi Nawang Wulan.

Baca juga: Kembar Mayang Surakarta jadi Warisan Takbenda, Elemen Penting Sarat Makna di Pernikahan Adat Jawa

Dari pertemuan ini, Jaka Tarub menikahi Nawang Wulan.

Namun, suatu hari Jaka Tarub melanggar larangan Nawang Wulan terkait penutup dandang ketika memasak nasi ajaib yang tidak pernah habis.

PERNIKAHAN ADAT JAWA - Ilustrasi pernikahan adat Jawa saat momen Temu Panggih. GKR Bendoro dan KPH Yudanegara mengikuti prosesi panggih di Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, Selasa (18/10/2011). Beginilah sejarah gending Kebo Giro yang dilantunkan ketika momen sakral Temu Panggih.
PERNIKAHAN ADAT JAWA - Ilustrasi pernikahan adat Jawa saat momen Temu Panggih. GKR Bendoro dan KPH Yudanegara mengikuti prosesi panggih di Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, Selasa (18/10/2011). Dalam pernikahan Adat Jawa, ada tradisi sakral yang tak boleh dilewatkan, yakni Midodareni. (Tribunnews.com/TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI))

Nawang Wulan pun kembali ke kahyangan, tetapi meninggalkan pesan agar pada kelak putri mereka, Dewi Nawangsih, menikah dengan ritual khusus menggunakan kembar mayang, sepasang kelapa muda yang ditempatkan di kamar pengantin sebelum pernikahan.

Keyakinan ini menjadi dasar munculnya tradisi Midodareni, di mana bidadari diyakini turun untuk memberkahi dan mempercantik pengantin perempuan.

Filosofi dan Makna Spiritual

Midodareni bukan sekadar ritual malam menjelang pernikahan, tetapi juga sarat makna simbolis:

  • Persiapan Spiritual dan Fisik: Pengantin perempuan dipersiapkan agar cantik, tenang, dan siap memasuki kehidupan rumah tangga.
  • Doa dan Restu: Malam itu dipenuhi doa dari keluarga, kerabat, dan simbol bidadari, sebagai harapan agar pernikahan diberkahi.
  • Simbolisasi Perubahan Status: Upacara ini menandai perubahan pengantin perempuan dari gadis menjadi istri, sesuai konsep rite of passage dalam antropologi budaya.

Baca juga: Sejarah Molen, Adaptasi Roti Khas Belanda yang Menjelma jadi Oleh-oleh Khas Tawangmangu Karanganyar

Rangkaian Prosesi Midodareni

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved