Fakta Menarik Tentang Solo

Sejarah Cap Go Meh : Jatuh pada 3 Maret 2026, Tiap Tahun Dirayakan Secara Meriah di Solo

Perayaan ini merupakan hari ke-15 sekaligus penutup rangkaian Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang sebelumnya dirayakan pada 17 Februari 2026.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM/SEPTIANA AYU LESTARI
KEMERIAHAN GREBEG SUDIRO - Salah satu penampilan pengisi acara dalam Karnaval Budaya Grebeg Sudiro 2025 di Pasar Gede Solo, Jateng, Minggu (26/1/2025) siang. Cap Go Meh 2026 jatuh pada Selasa, 3 Maret 2026, begini sejarahnya. 

Ringkasan Berita:
  • Cap Go Meh 2026 jatuh pada 3 Maret 2026, menjadi hari ke-15 sekaligus puncak perayaan Imlek 2577 Kongzili dan dikenal sebagai Festival Lampion.
  • Tradisi ini sudah ada sejak Dinasti Han, identik dengan lampion, arak-arakan Toapekong, barongsai, liong, hingga festival budaya dan kuliner.
  • Cap Go Meh bukan hari libur nasional. Di Solo, perayaan dimeriahkan Grebeg Sudiro sebagai simbol harmoni budaya.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Cap Go Meh 2026 jatuh pada Selasa, 3 Maret 2026.

Perayaan ini merupakan hari ke-15 sekaligus penutup rangkaian Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang sebelumnya dirayakan pada 17 Februari 2026.

Biasanya, tiap tahun perayaan Cap Go Meh berlangsung secara meriah di Solo.

Baca juga: Sejarah Es Kopyor, Minuman Legendaris jadi Salah Satu Favorit Buka Puasa di Solo Raya

Secara harfiah, Cap Go Meh berarti “malam kelima belas”.

Kata cap berarti sepuluh, go lima, dan meh bermakna malam.

Perayaan ini dikenal sebagai puncak perayaan Imlek dan juga disebut sebagai Festival Lampion.

Sejarah Singkat Cap Go Meh

Tradisi Cap Go Meh sudah ada sejak masa Dinasti Han (206 SM–221 M).

Awalnya, perayaan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Thai-yi, dewa tertinggi di langit.

Pada masa Dinasti Tang, perayaan berkembang menjadi pesta rakyat yang dirayakan secara luas.

Masyarakat merayakannya dengan berbagai hiburan dan kegiatan budaya.

Baca juga: Sejarah Bakwan Makanan Favorit Buka Puasa di Solo Raya, Ternyata Punya Asal-usul yang Bikin Sedih

Cap Go Meh juga identik dengan arak-arakan joli Toapekong (patung dewa) yang dibawa keluar dari kelenteng untuk diarak keliling. Tradisi ini melambangkan penghormatan dan doa agar masyarakat mendapat berkah.

Festival Lampion dan Tradisi di Indonesia

Sebagai Festival Lampion, Cap Go Meh identik dengan penerangan lampion yang melambangkan harapan, keberuntungan, dan masa depan yang cerah.

Di Indonesia, perayaan ini diisi dengan berbagai kegiatan budaya seperti:

  • Pawai budaya
  • Tarian Naga (Liong/Nong Long)
  • Tarian Barongsai (Nong Shi)
  • Pertunjukan Wayang Potehi
  • Festival kuliner khas Tionghoa

Setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri dalam merayakan Cap Go Meh, mencerminkan akulturasi budaya Tionghoa dan lokal.

Apakah Cap Go Meh 2026 Libur Nasional?

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved