Wacana Kebijakan WFH ASN

Kondisi Perhotelan Solo Diungkap PHRI, WFH Dikhawatirkan Perparah Lesu

Wacana Work From Home (WFH) dampak Perang Iran vs AS-Israel membuat pengelola hotel was-was. 

Dok. TribunSolo.com
ILUSTRASI : Kamar hotel di Kota Solo. Dampak WFH dikhawatirkan membuat bisnis hotel makin lesu. 

Ringkasan Berita:
  • Wacana WFH dampak Perang Iran vs AS-Israel membuat pelaku hotel di Solo was-was, apalagi sektor ini belum pulih dari kebijakan efisiensi.
  • Kebijakan efisiensi sebelumnya sudah menekan bisnis perhotelan, kini potensi WFH dinilai makin memperberat kondisi usaha.
  • Situasi geopolitik turut menurunkan minat wisata, karena masyarakat cenderung menahan pengeluaran sehingga okupansi hotel terdampak.

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Wacana Work From Home (WFH) dampak Perang Iran vs AS-Israel membuat pengelola hotel was-was. 

Apalagi saat ini masih terasa dampak kebijakan efisiensi.

Saat ini kebijakan efisiensi mengakibatkan bisnis perhotelan harus mengencangkan ikat pinggang.

Kini, wacana Work From Home (WFH) sebagai langkah efisiensi pemerintah akibat Perang Iran vs AS-Israel makin menghimpit bisnis perhotelan di Solo.

Humas BPC PHRI Solo, Wening Damayanti, mengungkapkan kondisi ini membuat bisnis perhotelan semakin sulit bertahan. Ia menyebut hingga kini sektor ini masih belum pulih dari dampak efisiensi.

“Belum sebetulnya (pulih dari dampak efisiensi pemerintah). Ditambah lagi Perang Iran dan Amerika, ada wacana WFH, pasti akan lebih berat untuk kami,” jelasnya saat dihubungi, Minggu (29/3/2026).

Situasi ekonomi akibat perang telah terasa menjelang libur Lebaran. Secara psikologis, banyak orang lebih menahan untuk membelanjakan uangnya.

“Ini membuat kami yang berada di bisnis hospitality cukup was-was. Karena memang situasi geopolitik saat ini cukup berpengaruh terhadap turunnya volume wisatawan ke berbagai kota di Indonesia, termasuk salah satunya di Kota Solo,” tuturnya.

Penampakan kontainer yang berisi kamar seperti kamar hotel berbintang di Tenggir Glamping,  tepatnya di kawasan Tenggir Park, di dekat Candi Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Minggu (30/7/2022).
ILUSTRASI. Penampakan kontainer yang berisi kamar seperti kamar hotel berbintang di Tenggir Glamping, tepatnya di kawasan Tenggir Park, di dekat Candi Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Minggu (30/7/2022). (Tribunsolo.com/Mardon Widiyanto)

Okupansi di Bawah 50 Persen

Hal ini terlihat dari tiga hari sebelum Lebaran, okupansi di bawah 50 persen.

Pada hari H Lebaran pun baru berkisar 50–60 persen.

“H-3 di beberapa hotel masih rendah, di bawah 50 persen. Di hari H, tanggal 20–21, masih belum naik secara signifikan, rata-rata masih di 50–60 persen. H+1 naik cukup signifikan, banyak yang last minute booking. Masih banyak yang melihat situasi terlebih dahulu,” jelasnya.

Seperti telah diketahui, pemangkasan anggaran pemerintah mengakibatkan bisnis Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) anjlok. Hal ini membuat hotel memangkas belanja pegawai.

Baca juga: Wacana WFH Dampak Konflik Iran vs AS-Israel, Perhotelan Solo Kian Terhimpit

“Tahun ini sangat berat untuk kami di industri hospitality. Kami tidak bisa mengandalkan MICE dari pemerintah. Pemangkasan anggaran berkurang sangat jauh. Sehingga akhirnya banyak yang melakukan efisiensi, terutama dalam hal ketenagakerjaan. Kami melakukan pengurangan SDM. Banyak yang dirumahkan sementara dan unpaid leave,” tuturnya.

Sementara itu, upaya untuk menggali sektor swasta nyatanya tak cukup mengembalikan kehilangan besar akibat pemangkasan pemerintah.

“Dampaknya masih terasa karena belum ada anggaran yang teralih dari meeting pemerintahan ke hotel. MICE yang harus kami gali dari sektor swasta,” terangnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved