Kawan Tuli Coffee and Space
Di Balik Ramainya Pelanggan, Kawan Tuli Coffee and Space di Solo Hadapi Tekanan Berat Inflasi
Kenaikan harga biji kopi hingga 40 persen menjadi pukulan nyata bagi Kawan Tuli Coffee and Space di tengah ketatnya persaingan coffee shop
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
Ringkasan Berita:
- Kawan Tuli Coffee terdampak inflasi, harga biji kopi naik hingga 40 persen.
- Meski biaya naik, usaha tetap berjalan dan memberdayakan 6 karyawan tuli.
- Pengelola pertimbangkan kenaikan harga menu di tengah persaingan ketat.
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kenaikan harga biji kopi hingga 40 persen menjadi pukulan nyata bagi Kawan Tuli Coffee and Space di tengah ketatnya persaingan coffee shop dan situasi global yang belum stabil akibat perang Iran vs Israel-AS.
Lonjakan biaya bahan baku ini memaksa pengelola mulai menghitung ulang harga jual menu agar tetap bertahan.
Co-Founder Kawan Tuli Coffee and Space, Florentino Bintang, mengakui tekanan tersebut tidak bisa dihindari.
Di satu sisi, antusiasme pelanggan masih terjaga, namun di sisi lain biaya operasional terus merangkak naik.
“Kalau secara bisnis puji tuhannya antusiasme masyarakat cukup baik. Cuma kita bisa bilang kompetisi di Kota Solo cukup ketat. Sepanjang Slamet Riyadi kopi semua,” ungkapnya.
Kenaikan harga bahan baku, terutama biji kopi, menjadi tantangan paling terasa.
Bahkan, menurutnya, hampir semua komponen mengalami kenaikan.
“Biji kopinya sendiri bisa sampai 40 persen naiknya. Minyak naik semuanya naik. Kita pertimbangankan untuk adjust,” terangnya.
Meski dihimpit berbagai tekanan, usaha ini tetap berupaya mempertahankan komitmen sosialnya dengan memberdayakan pekerja tuli. Saat ini, ada enam karyawan tuli yang bekerja, ditambah dua helper saat akhir pekan.
Baca juga: Dela dan Galih, Barista Tuli yang Layani Coffee Holic di Solo, Minta Customer Tak Takut Interaksi
“Tapi kita masih bisa puji tuhannya empower 6 karyawan walaupun mereka semua masih magang. Mereka nggak full 8 jam. Kekuatan emosional dan fisik berbeda. Banyak yang introvert dan jarang keluar. Ketemu orang capek. Total ada 6 orang plus 2 helper kalau weekend. Sudah bisa dibilang layak. Kita ambilnya pro-rate UMR kita potong hari masuk berapa jam,” jelasnya.
Dari sisi penjualan, ratusan minuman mampu terjual setiap hari. Bahkan, saat momen tertentu, jumlahnya bisa melonjak signifikan.
“Kalau untuk per pcs random. Hari Rabu bukan tanggal merah bukan libur tapi tiba-tiba rame. 400 pcs minuman. Weekend standard 500 pcs. Tapi pernah peak grand opening hampir 2000. Harga menu mulai dari 12-34 ribu,” terangnya.
Namun, tantangan tak berhenti di sana.
| Lapangan Kerja untuk Difabel Minim, Kawan Tuli Coffee and Space Solo Usul Insentif Bagi Pelaku Usaha |
|
|---|
| Dela dan Galih, Barista Tuli yang Layani Coffee Holic di Solo, Minta Customer Tak Takut Interaksi |
|
|---|
| Kisah Unik Coffee Shop Tuli di Solo : Dari Ngopi Jadi Belajar Empati, Bikin Sadar Arti Inklusi |
|
|---|
| Kisah Kawan Tuli Coffee and Space di Tengah Persaingan Ketat Coffee Shop di Kota Solo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Kawan-Tuli-Coffee-and-Space-salah-satu-kafe-unik-yang-bisa-jadi-jujugan-wisatawan-di-Solo.jpg)