Angka Tuberkulosis di Solo
Rumah Lembap Tingkatkan Risiko Penularan TBC, Dinkes Solo Tekankan Bahaya Lingkungan Tak Sehat
Kondisi rumah yang gelap dan tidak sehat menjadi salah satu faktor yang membuat bakteri TBC lebih mudah berkembang
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Putradi Pamungkas
Ringkasan Berita:
- Dinkes Surakarta menegaskan rumah lembab dan gelap meningkatkan risiko penularan TBC, terutama jika terdapat penderita di dalamnya karena bakteri lebih mudah berkembang di lingkungan tidak sehat.
- Kota Solo mencatat 405 kasus TBC (Jan–Maret 2026) dengan 20 persen pasien tidak patuh minum obat, sehingga menghambat keberhasilan pengobatan.
- Pemkot Solo memperkuat program Kelurahan Peduli TBC dan tracing terintegrasi untuk menekan penyebaran dan mempercepat deteksi kasus.
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Risiko penularan Tuberkulosis (TBC) di Kota Surakarta disebut meningkat pada lingkungan rumah yang lembap dan minim cahaya matahari.
Kondisi rumah yang gelap dan tidak sehat menjadi salah satu faktor yang membuat bakteri TBC lebih mudah berkembang, terutama jika terdapat penderita di dalamnya.
Hal ini menjadi sorotan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surakarta di tengah masih ditemukannya ratusan kasus TBC di Kota Solo.
Selain faktor kepatuhan minum obat, kondisi lingkungan tempat tinggal juga dinilai sangat berpengaruh terhadap penularan penyakit ini.
Rumah Lembap dan Gelap Jadi Faktor Risiko Penularan
Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Retno Erawati, menegaskan bahwa kondisi rumah yang tidak sehat dapat mempercepat penyebaran bakteri TBC.
“Masyarakat diharapakan dapat berperilaku hidup bersih dan sehat sehingga TBC tidak menular. Dan rumah yang kurang sehat sangat mendukung perkembangan bakteri TBC karena kondisi lembap, tidak terkena sinar matahari. Rumah-rumah lembap dan gelap akan lebih rentan terhadap penularan TBC apalagi kalau disitu ada penderitanya,” ujarnya, saat ditemui dalam Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia di kantor Kecamatan Jebres, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, lingkungan rumah yang lembap, gelap, dan minim ventilasi menjadi tempat ideal bagi bakteri untuk bertahan hidup lebih lama, sehingga risiko penularan meningkat, terutama pada anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC.
Kasus TBC di Solo Capai 405, Kepatuhan Obat Masih Tantangan
Selain faktor lingkungan, Dinkes Surakarta juga mencatat 405 kasus TBC sepanjang Januari hingga Maret 2026.
Dari jumlah tersebut, sekitar 20 persen pasien tidak menjalani pengobatan secara teratur.
“Sampai dengan sekarang, tingkat kepatuhan minum obat (penderita TBC) di Solo masih 80 persen. Jadi masih ada beberapa pasien yang minum obat tidak teratur,” ungkap Retno.
Ia menegaskan bahwa kepatuhan minum obat menjadi kunci utama kesembuhan pasien, mengingat TBC merupakan penyakit bakteri yang bisa disembuhkan jika pengobatan dilakukan secara konsisten.
“Tingkat kepatuhan obat juga sangat penting karena sangat mendukung keberhasilan pengobatan,” terangnya.
Baca juga: Angka Tuberkulosis di Solo Tembus 405 Kasus, Dinkes Catat 20 Persen Pasien Tak Patuh Minum Obat
Program Kelurahan Peduli TBC Diperluas
Untuk menekan angka penularan, Pemkot Surakarta terus memperkuat program Kelurahan Peduli TBC yang diterapkan di seluruh wilayah kota.
“Sebagai langkah berkelanjutan, kita juga sudah membuat program Kelurahan Peduli TBC. Jadi di semua kelurahan di Kota Surakarta, tentu ini sangat membantu untuk penanganan, penanggulangan, pencegahan TBC,” jelas Retno.
| Ada 450 Kasus Tuberkulosis di Solo, Dinkes : Rumah Lembap dan Minim Cahaya Matahari Wajib Diwaspadai |
|
|---|
| Angka Tuberkulosis di Solo Tembus 405 Kasus, Dinkes Catat 20 Persen Pasien Tak Patuh Minum Obat |
|
|---|
| Angka Kematian Akibat Tuberkulosis di Solo Meningkat, Penderita Terbanyak di Mojosongo dan Jebres |
|
|---|
| Kurangi Penularan Tuberkulosis, Wali Kota Respati Bakal Relokasi Hunian Liar hingga Luar Solo |
|
|---|
| Angka Kematian Akibat Tuberkulosis Meningkat, Pemkot Solo Waspadai Pasien Resisten Obat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Ilustrasi-skrining-untuk-mencegah-penyebaran-penyakit-Tuberkulosis-TBC-di-Kabupaten-Karanganyar.jpg)