Aktivitas Wakil Wali Kota Solo

Serba Bisa, Wawali Solo Astrid Widayani Ikut Menari Saat Momen Perayaan Hari Tari Dunia

Selain pertunjukan tari kolosal, rangkaian Solo Menari juga diisi dengan sarasehan yang melibatkan puluhan sanggar.

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Rifatun Nadhiroh
TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin
Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani ikut menari Gambyong dengan para maestro tari di event Jebres Menari Pendopo Gendhon Humardani, Rabu (29/4/2026). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pelaksanaan Solo Menari 2026 berlangsung meriah dengan melibatkan sekitar 1.700 penari dari berbagai sanggar, sekolah, dan komunitas di Kota Surakarta.

Kegiatan yang digelar di Plaza Balaikota, Rabu (29/4/2026) dalam rangka Hari Tari Dunia ini menjadi wadah kebersamaan sekaligus perayaan seni tari di jantung kota.

Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani menyampaikan apresiasi atas kolaborasi seluruh elemen yang terlibat dalam mensukseskan acara tersebut.

Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani ikut menari Gambyong dengan para maestro tari di event Jebres Menari Pendopo Gendhon Humardani, Rabu (29/4/2026).
Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani ikut menari Gambyong dengan para maestro tari di event Jebres Menari Pendopo Gendhon Humardani, Rabu (29/4/2026). (TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin)

“Alhamdulillah terselenggara dengan sangat meriah. Lebih dari 1.500, bahkan tercatat 1.700 penari hadir dan menari bersama di depan Balai Kota Surakarta. Ini menjadi kebanggaan karena seluruh unsur, mulai dari sanggar, sekolah, hingga komunitas, bersatu dalam satu wadah festival,” ujarnya.

Selain pertunjukan tari kolosal, rangkaian Solo Menari juga diisi dengan sarasehan yang melibatkan puluhan sanggar.

Tercatat sekitar 30 sanggar mengikuti kegiatan sarasehan, sementara secara keseluruhan terdapat sekitar 70 sanggar tari di Kota Surakarta yang turut berpartisipasi dalam perayaan ini.

Astrid menilai, tingginya partisipasi tersebut menunjukkan antusiasme masyarakat yang semakin besar terhadap seni tari, sekaligus memperkuat posisi Surakarta sebagai kota budaya.

Baca juga: Buku Untold Story Karya Wawali Solo Astrid Widayani, Keseimbangan Antara Tugas Sebagai Ibu & Pejabat

“Ini sangat positif karena masyarakat bisa merasakan euforia Solo Menari. Harapannya, kegiatan ini semakin meneguhkan Solo sebagai kota budaya yang kaya akan sejarah dan seni,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan institusi pendidikan yang turut menyemarakkan acara, termasuk inisiatif pertunjukan tari selama 24 jam sebagai bagian dari dukungan terhadap Solo Menari.

Lebih lanjut, Astrid menjelaskan bahwa tema Solo Menari tahun ini, “Aku Kipas”, mencerminkan dinamika seni tari yang sarat makna, termasuk nilai fleksibilitas dalam menghadapi keberagaman serta keseimbangan antara tindakan dan nurani.

“Kita ingin menunjukkan bahwa seni tari tidak hanya soal gerak, tetapi juga filosofi kehidupan, bagaimana kita bisa fleksibel terhadap perbedaan, serta menjaga keseimbangan dalam kehidupan,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa pelibatan penyandang disabilitas dalam kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen Kota Surakarta dalam mendorong inklusivitas di bidang seni dan budaya.

Melalui Solo Menari, Pemerintah Kota Surakarta berharap seni tari dapat terus berkembang sebagai ruang ekspresi, edukasi, sekaligus perekat sosial yang memperkuat identitas kota.

Baca juga: Ikut Nari Gambyong dengan Para Maestro Tari, Wawali Solo Astrid Widayani Nostalgia Semasa Kecil

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved