Pentingnya Indentitas Kampung dalam Pembangunan Kota

Ketika suatu kampung bisa mempertahankan identitas ditengah laju pembangunan, maka keberadaan kampung menjadi pelengkap pembangunan itu sendiri.

Pentingnya Indentitas Kampung dalam Pembangunan Kota
TribunSolo.com/Imam Saputro
Gugun saat menjadi salah satu narasumber dalam Srawung Kampung Kota #2, Rabu (17/10/2018).  

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Imam Saputro

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Identitas kampung menjadi satu hal penting dalam penataan kota.

Ketika suatu kampung bisa mempertahankan identitas ditengah laju pembangunan, maka keberadaan kampung menjadi pelengkap pembangunan itu sendiri.

Hal itu yang mengemuka dalam diskusi Srawung Kampung Kota #2 di yang diselenggarakan oleh prodi Sosiologi FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Rabu (17/10/2018).

Tim Gabungan Polda Jateng dan Polresta Solo Gerebek Dua Tempat Karaoke di Solo

Salah satu narasumber adalah aktivis UPC (Urban Poor Consortium), Gugun Muhammad yang berhasil menata kampung di Jl Tongkol untuk berbenah dan akhirnya tak jadi digusur Pemprov DKI Jakarta.

“Kami berbenah, dan kami bernjanji jadi bagian dari solusi, ketika pemprov mau bangun jalan 15 m untuk jalur inspeksi sungai, kami katakan, 5 meter saja, yang 10 meter tetap jadi tempat tinggal warga, dan 5 meter jadi jalan inspeksi,” kata Gugun.

Warga di sekitar juga komitmen untuk menjaga sungai .

“Kami yang tinggal disitu, kami lebih tahu dari pada petugas yang tidak tiap hari ada di lokasi,” kata dia.

Perjuangannya dalam mempertahankan pemukiman juga dibarengi dengan penataan di pinggir sungai.

“Analoginya begini, mau melamar anak orang harus wangi dulu atau wanginya setelah lamaran? Jadi kami berbenah dan kami ngomong ke pemerintah, ini lo kami sudah wangi, sudah berbenah,” ujarnya.

Aksi mereka juga dibarengi dengan kontrak politk dengan calon gubernur sewaktu pilkada.

Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo Dijadwalkan Buka Solo Investment Forum 2018

“Kami bikin perjanjian, yang jika ada pelanggaran bisa lari ke perdata, maka perjanjian itu sampai saat ini masih berlaku,” paparnya.

Ia menyatakan, suatu kampung jika bersatu dan memiliki konsep yang jelas maka bisa bersinergi dengan pembangunan tanpa harus meninggalkan kampung itu sendiri.

Diskusi tersebut dipandu oleh dosen Sosiologi UNS Solo Akhmad Ramdhon.

Selain itu hadir juga, Endang Rohjiani pegiat di Kali Winongo Yogyakarta dan Sony Waluya pegiat komunitas untuk siaga bencana di Solo.(*)

Penulis: Imam Saputro
Editor: Fachri Sakti Nugroho
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved