Guru Bahasa Jawa SMPN 8 Solo Ini Ingatkan Pentingnya Tradisi Bancakan Weton
Bacakan weton atau syukuran hari lahir sekarang ini sudah mulai pudar.
Penulis: Labibzamani | Editor: Junianto Setyadi
“Mereka berpendapat bahwa budaya ini memiliki relevansi dan memiliki manfaat bagi masyarakat pendukungnya,” kata Suprapti kepada TribunSolo.com, Minggu (24/7/2016).
Adapun bancakan, ujarnya, merupakan pernyataan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberhasilannya.
“Perlengkapan untuk bancakan weton ini ada nasi urap (gudangan), telur rebus, dan juga jajan pasar.”
Tradisi hari kelahiran dilakukan masyarakat berdasarkan perhitungan kalender Jawa yang berputar selama 35 hari.
Artinya diperingati setiap 35 hari sekali.
Orang Jawa memiliki tradisi yang disebut selapanan, yaitu memperingati weton kelahiran dengan melakukan laku prihatin.
Misalnya dengan lelaku puasa ngapit (puasa tiga hari yaitu pada hari weton ditambah satu hari sebelum dan sehari sesudahnya), mutih ( selama beberapa hari hanya makan nasi putih dan minum air putih tawar saja tanpa puasa, jadi boleh makan dan minum kapan saja).
Ada pula lelaku puasa tiga hari sebelum weton, lima hari sebelum weton dan berbagai jenis cara puasa lainnya.
Seperti melek (tidak tidur) selama 24 jam dimulai saat matahari terbenam saat masuk hari wetonnya diakhiri ketika matahari terbenam di hari wetonnya sambil menghidangkan sesaji berupa variasi empat warna bubur dan sesaji lainnya yang memiliki arti simbolik yang luhur. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/nasi-bancakan-weton-yang-terdiri-nasi-urap-gudangan-telur-rebus-dan-jajan-pasar_20160724_132104.jpg)