FISIP UNS Solo Bahas Hoax Hadirkan Deputi IV Kantor Staf Presiden

"Jadi yang canggih, keren dan smart bukan hanya gawainya, tapi kecerdasan si pemakai ini sangat penting," tegas dia.

Penulis: Imam Saputro | Editor: Daryono
TRIBUNSOLO.COM/IMAM SAPUTRO
Deputi IV Kantor Staf Presiden, Eko Sulistyo, saat menjadi salah satu narasumber dalam Seminar Komunikasi Kontemporer bertema Hoax dan Diseminasi Informasi di Tahun Politik di FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Sabtu (24/3/2018). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Imam Saputro

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Perkembangan hoax atau berita bohong semakin mengkhawatirkan menjelang Pilkada serentak 2018.

Berita bohong yang disebarkan teman dekat, atau tetangga di sekitar rumah langsung diyakini sebagai kebenaran tanpa melakukan pengecekan silang.

"Fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik bila dibandingkan dengan emosi dan keyakinan pribadi, asal yang share saudara atau temannya langsung diyakini sebagai kebenaran, itu berbahaya, harus dicek lagi idealnya," kata Deputi IV Kantor Staf Presiden, Eko Sulistyo, saat menjadi salah satu narasumber dalam Seminar Komunikasi Kontemporer bertema Hoax dan Diseminasi Informasi di Tahun Politik di FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Sabtu (24/3/2018).

Eko mengatakan hoax bisa merajalela disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya kemaju­an teknologi informasi yang asimetris dengan kapasitas adaptasi pemerintah dan ma­syarakat.

"Kedua, adanya kom­petisi politik yang tidak ber­kesudahan sejak Pilpres 2014 dan adanya dukungan dari masyarakat tertentu pada ideo­logi ekstrem anti-Pancasila," jelasnya.

Baca: Masinton Anggap Aksi Novanto Sebut Puan dan Pramono Terima Uang e-KTP Hanya Drama

Menurut Eko, kunci utama melawan hoax adalah pe­negakan hukum yang tegas tanpa pandang bulu.

Sementara narasumber lain, Kaprodi Ilmu Komunikasi FISIP UNS, Sri Hastjarjo mengatakan salah satu upaya melawan hoax adalah memperkuat media literasi.

"Contohnya anak 10 tahun dikasih motor, yang terlihat dia bisa mengendarai, tapi dari sisi mental belum tentu, bisa saja ia emosi ketika disalip, orang lain terus ngebut dan nabrak," kata Hastjarjo.

"Kasus tadi sama dengan hp, banyak orang sekarang bisa beli hp, tp belum siap mental dengan teknologi yang sedemikian maju, "imbuhnya.

Menurutnya, buku petunjuk pengguna hp baiknya tak hanya berisi panduan menyalakan dan mematikan gawai, tapi juga diberi petunjuk bagaimana memanfaatkan gawai secara baik dan bermanfaat.

Baca: Usai Santer Jadi Sorotan dan Diberitakan, Lucinta Luna Beri Peringatan ke Netter soal Hal Ini

Hastjarjo menambahkan, dahulu orang belum percaya jika ada berita tanpa foto, akan tetapi perkembangan zaman sudah memungkinkan adanya penyuntingan tak hanya di foto tapi sudah ke video.

"Selalu crosscheck, selalu periksa dari sumber-sumber lain jika ada berita atau informasi," ujar Hastjarjo.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved