5 Faktor Penyebab Baby Blues yang Wajib Diwaspadai
Kekhawatiran ibu hamil dapat memicu terjadinya stres yang dapat berlanjut hingga pasca persalinan.
TRIBUNSOLO.COM - Kekhawatiran ibu hamil dapat memicu terjadinya stres yang dapat berlanjut hingga pasca persalinan.
Bentuk respons tubuh terhadap stres adalah rangsangan, baik terhadap aksis hipothalami pituitari adrenal (HPA) maupun sistem saraf simpatis (SNS).
Rangsangan tersebut akan berakibat pada perubahan neuroendokrin, khususnya berupa pelepasan hormon kortikotropin (CRH) dan hormon adrenokortikotropin (ACTH), yang kemudian akan merangsang korteks adrenal untuk melepaskan kortisol.
Selama kehamilan, ada peningkatan progresif pada ACTH, kortisol, dan CRH ibu.
Hubungan antara plasenta dan HPA aksis bersifat timbal balik.
Stres yang dialami ibu menghasilkan pengeluaran kortisol adrenal, epinefrin dan norepinefrin sehingga akan merangsang produksi CRH plasenta.
Selanjutnya plasenta mengeluarkan CRH, yang dapat memengaruhi atau bahkan memperkuat peran responsibilitas HPA dan janin terhadap stres.
Stres yang dialami ibu hamil dapat terus berlanjut hingga pasca persalinan.
Ketika terjadi ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan, ibu akan mengalami baby blues.
Di bawah ini adalah beberapa faktor yang paling umum ditemui yang dapat menghambat penyesuaian dalam menerima peran sebagai ibu seperti yang dilansir Nakita.id.
1. Ibu mengalami depresi berat saat hamil.
Misalnya, kesedihan karena kehilangan orang tua atau sanak keluarga.
2. Proses persalinan yang diharapkan normal (fisiologis) menjadi berjalan patologis (dengan tindakan, seperti vakum atau operasi caesar).
Ketidaksiapan dan kekecewaan ibu dapat memengaruhi mood setelah melahirkan dan membuat seorang ibu terus tenggelam dalam perasaan bersalah atau menyesal.
3. Bayi yang lahir tidak sesuai dengan yang diharapkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/ilustrasi_20180331_213453.jpg)