Ini Kunci Keharmonisan Warga Multikultur di Kota Tua Ampenan, NTB

Dari sisi pergaulan masing-masing etnis bisa hidup masing-masing tanpa saling mengganggu, demikian dengan budaya dan agama.

Penulis: Imam Saputro | Editor: Daryono
TRIBUNSOLO.COM/IMAM SAPUTRO
Kota tua Ampenan di Mataram salah satu tempat berbagai etnis hidup berdampingan sejak ratusan tahun lalu. 

Lambat laun, kota pelabuhan ini membentuk beberapa kampung berdasarkan asal penghuninya selain penduduk asli, orang sasak.

Ada Kampung Melayu, Kampung Arab, Kampung Bugis, dan Kampung Cina.

Salah satu tetua Kampung Melayu, Haji Kemas Marzuki mengatakan di Ampenan tiga kampung besar, Arab, Tionghoa dan Sasak hidup berdampingan.

"Dari dahulu sampai sekarang kami hidup berdampingan, rukun, saling menghormati," kata pria 64 tahun ini.

"Beberapa dari kami juga sudah "ambil" dari Arab," katanya.

Baca: Pemerintah Dukung Program Istana Mataram Sebagai Upaya Pelestarian Budaya

Ia menjelaskan, makna kata "ambil" adalah menikahi orang sesuai adat Lombok.

Di Ampenan juga tersisa puing-puing dermaga yang dibangun pada masa Belanda yakni sekitar 1948.

Saat ini lokasi tersebut digunakan warga untuk lokasi memancing.

Pelabuhan Ampenan adalah salah satu pelabuhan yang memenuhi syarat bongkar muat pada era 70an.

Pada masa itu di bulan baik ada ratusan kapal yang singgah di Lombok ini.

"Ampenan akan sepi ketika musim barat, cuacanya tidak memungkinkan, terutama ketika bulan 12(Desember), selain itu ramai, " kata Kemas Marzuki.

Alasan itulah, menurutnya, yang menjadikan pemerintah masa kini memindahkan pelabuhan ke Lembar.

"Dulu disini apa-apa ada, macam-macam barang dagangan, penumpang, dan bahkan naik haji dulu berangkat dari pelabuhan Ampenan," ujarnya.

Alasan lain, pemerintah memutuskan pelabuhan pindah ke Lembar di tahun 1973 karena Ampenan mengalami pendangkalan sehingga kurang optimal untuk pelabuhan.(*)

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved