Soal Pernyataan Mahar Rp 500 Miliar, Andi Arief Mengaku Diperintah oleh Partai

Mahar itu, disebutnya, dijanjikan agar PAN dan PKS mau menerima Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden bagi Prabowo Subianto.

Editor: Hanang Yuwono
Capture YouTube
Andi Arief 

TRIBUNSOLO.COM, JAKARTA - Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief mengaku ia diperintah oleh partainya untuk bicara mengenai dugaan mahar Rp 500 Miliar dari Sandiaga Uno ke Partai Amanat Nasional dan Partai Keadilan Sejahtera.

Mahar itu, disebutnya, dijanjikan agar PAN dan PKS mau menerima Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden bagi Prabowo Subianto.

"Saya ingin menyatakan bahwa saya diperintah partai bicara ini," kata Andi dalam acara sapa Indonesia Malam di Kompas TV, Senin (13/8/2018) malam.

Andi memastikan pernyataannya bisa dipertanggungjawabkan.

Lewat Program GO-JEK Swadaya, Mitra GO-JEK Bisa Nyicil Hunian Rp 48 Ribu Per Hari

Bahkan, menurut dia, keputusan Demokrat untuk mengungkap soal dugaan mahar ini diambil dalam rapat resmi partai di kediaman Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu (8/8/2018) malam.

"Hasil rapat menyatakan kita kemukakan saja ke publik problem sebenarnya," kata dia.

Andi mengaku tidak takut jika pernyataannya di twitter berujung pada konsekuensi hukum.

Mantan staf khusus Presiden keenam SBY ini menyatakan, siap menghadapi proses hukum, jika kicauannya diproses oleh pihak kepolisian.

PSM UMS Sabet 3 Emas dalam Bali International Choir Festival

Ia bersedia dikonfrontasi dengan pihak yang merasa dirugikan dengan pernyataannya.

Ia juga menolak minta maaf perihal isu mahar Rp 500 miliar ke PKS dan PAN itu.

"Saya orang yang taat hukum, pasti akan hadir, tidak mungkin saya menghindar."

"Saya siap dikonfrontasi untuk menyelesaikan masalah ini," ujarnya, seperti dikutip TribunSolo.com dari Kompas.com.

Kompas.com tengah meminta komentar Demokrat terkait pernyataan Andi Arief ini. 

Jelang Pileg dan Pilpres 2019, Bawaslu Kota Solo Waspadai Kampanye Liar

Isu mahar Rp 500 miliar ini sempat membuat Partai Demokrat goyah untuk bergabung ke koalisi Gerindra, PKS dan PAN.

Hingga menit-menit akhir, partai berlambang mercy menolak Sandiaga sebagai cawapres Prabowo.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved