Monumen Pers

Sejarah Pers di Kota Bengawan, dan Julukan "Kuburan Koran"

Mempelajari perjalanan pers tanah air tak lengkap rasanya jika tak menilik Kota Solo.

Penulis: Astini Mega Sari | Editor: Mohamad Yoenus
Kominfo
Monumen Pers Nasional, Solo, Jawa Tengah, Kamis (13/9/2018). Monumen ini berdiri sejak 9 Februari 1949. 

TRIBUNWOW.COM - Mempelajari perjalanan pers tanah air tak lengkap rasanya jika tak menilik Kota Solo.

Di kota ini terbit Bromartani, surat kabar pertama berbahasa Jawa yang didirikan pada 1855.

Sayangnya, tak berapa lama kemudian, koran ini akhirnya ditutup karena tak mendapatkan keuntungan.

Ada pula koran yang cukup terkenal di Jawa pada masa sebelum kemerdekaan.

Koran tersebut adalah Darmo Kondo yang dibeli Boedi Oetomo cabang Solo sekitar tahun 1915.

Kota Solo juga menjadi tempat Monumen Pers Nasional berada.

Monumen Pers sendiri menjadi saksi terbentuknya organisasi kewartawanan pertama di Indonesia yakni, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Februari 1949.

Dalam kongres tersebut terbentuk komisi 10 orang yang dinamakan Panitia Usaha.

Dilansir dari Pwi.or.id, kurang tiga minggu kemudian komisi tersebut bertemu lagi di kota Solo, bertepatan para anggota bertugas menghadiri sidang Komite Nasional Indonesia Pusat yang berlangsung dari 28 Februari hingga Maret 1946.

Komisi ini melakukan sidang dan membahas masalah pers yang dihadapi, kemudian menyepakati perlunya segera membentuk sebuah wadah untuk mengkoordinasikan persatuan pengusaha surat kabar, waktu itu disebut Serikat Perusahaan Suratkabar.

Berdasarkan kelahiran PWI, 9 Februari ditetapkan menjadi Hari Pers Nasional.

Solo Kuburan Koran

Julukan "Solo Kuburan Koran" pun kerap disematkan untuk kota asal Presiden Joko Widodo ini seiring dengan perjalanan pers di dalamnya.

Menurut Konsevator Monumen Pers, Supardi, julukan tersebut tak lepas dari banyaknya media cetak yang muncul di Solo, namun, mati dalam waktu yang tak bisa dibilang lama.

"Di Solo itu ada Koran Bromartani pada tahun 1800-an. Pujangga Solo, Ronggowarsito, menjadi redaktur di koran itu. Sebelum kemerdekaan di sini ada koran Darmo Kondo pada tahun 1915. Pasca kemerdekaan, tahun 60-an banyak juga bermunculan koran-koran di Solo. Tapi, mereka terbit beberapa periode kemudian mati," ujar Supardi, Kamis (13/9/2018).

Sumber: TribunWow.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved