Breaking News:

Monumen Pers

Monumen Pers Nasional: Dari Kamera Wartawan Udin hingga Baju Hendro Subroto

Monumen Pers juga menyimpan benda-benda lingkup pers seperti mesin ketik, kamera, hingga radio pemancar.

Penulis: Astini Mega Sari | Editor: Mohamad Yoenus
TribunWow.com/Astini Mega Sari
Tas dan kamera Udin yang dipajang di Monumen Pers Nasional, Rabu (12/9/2018). 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Sebelum ada komputer, mesin ketik manual pernah menjadi alat pembuatan koran cetak.

Peralatan peliputan pun seperti kamera juga belum secanggih sekarang.

Perkembangan media massa dari waktu ke waktu ini tak luput dari perhatian Monumen Pers Nasional di Solo, Jawa Tengah.

Di sana ada lebih dari 2 juta eksemplar jejak sejarah pers yang terdiri dari bukti terbit media massa.

Monumen Pers juga menyimpan benda-benda lingkup pers seperti mesin ketik, kamera, hingga radio pemancar.

Monumen Pers Tingkatkan Kesadaran Informasi dan Minat Baca Publik Lewat Papan Koran untuk Umum

Pada Kamis (13/9/2018), Tribun berkunjung ke di Monumen Pers Nasional, Solo.

Dari sekian banyak koleksi yang ada, beberap cukup menarik perhatian.

Mulai dari kamera wartawan Udin hingga baju Hendro Subroto.

Tas dan kamera milik wartawan Udin tersebut tersimpan di dalam kotak kaca di dalam museum.

Udin yang memiliki nama lengkap Fuad Muhammad Syafruddin adalah Harian Bernas Yogyakarta yang tewas akibat dianiaya orang tidak dikenal tahun 1996.

Tas dan kamera Udin yang dipajang di Monumen Pers Nasional, Rabu (12/9/2018)
Tas dan kamera Udin yang dipajang di Monumen Pers Nasional, Rabu (12/9/2018). (TribunWow.com/Astini Mega Sari)

Ada pula mesin ketik Bakrie Soeratmadja seorang wartawan pejuang pada masa pemerintahan Belanda tahun 1930-an.

Intip Perawatan Koleksi Monumen Pers Nasional yang Tak Mudah dan Tak Murah

Lalu, yang tak kalah menarik adalah baju Hendro Subroto.

Hendro Subroto yang lahir di Surakarta 18 Desember 1938, adalah seorang wartawan perang, mengawali karier di tahun 1964 sebagai kamerawan di TVRI.

Dilansir dari Kompas.com, dalam perjuangan integrasi di Timor Timur, pada bulan November 1975 Hendro menderita luka-luka berat ketika ia meliput pertempuran di palagan Fatularan, dalam upaya perebutan Posto (kota Kecamatan) Atabae, Concelho (Kabupaten) Bobonaro.

Halaman
12
Sumber: TribunWow.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved