Hari Batik Nasional
Mengenal Go Tik Swan, Keturunan Tionghoa di Solo yang Lestarikan Batik
Kecintaannya pada budaya Jawa tak hanya disalurkan lewat dedikasinya pada eksistensi batik di Indonesia.
Inilah yang awal perkenalannya dengan Bung Karno yang kemudian menjadikannya sebagai staf ahli kebudayaan.
Misi menyatukan Indonesia
Suatu hari, Bung Karno mendengar kabar jika Go Tik Swan berasal dari keluarga pembatik.
Presiden pertama Republik Indonesia ini pun memintanya membuat batik yang bisa diberi nama batik Indonesia yang bisa menyatukan seluruh rakyat.
"Saat makam malam, Bung Karno minta untuk dibuatkan batik yang bisa diberi nama batik Indonesia jadi, bukan batik Solo, Batik Yogya atau atau batik pesisiran," tambah pria berusia 68 tahun ini.
Profesi orangtua Go Tik Swan saat itu memang seorang pengusaha batik di Solo yang memiliki ribuan pekerja.
Keluarganya tak hanya dihormati oleh pekerja, tapi juga masyarakat sekitar.
Tak ingin mengecewakan presiden, pria kelahiran 11 Mei 1931 ini pun langsung menyanggupinya.
Setelah lama mencari inspirasi, akhirnya Go Tik Swan menggabungkan berbagai karkater dari batik Solo, Jogja dan Pesisiran menjadi satu hingga terciptalah batik Indonesia.
"Jadi, kalau batik pesisiran itu ciri khasnya kan warnanya cerah-cerah kalau batik keraton, seperti keraton Solo dan Jogja itu warnanya cenderung gelap, semua itu digabungkan hingga menjadi batik Indonesia," ucapnya.
Kedekatan dengan kelaurga Keraton
Go Tik Swan sangat dengan dengan KGPH Hadiwijaya yang merupakan salah satu putra dari Pakubowono X, yang juga seorang pegiat seni dan tari Jawa.
Hubungan dekat tersebut, akhirnya membuahkan kepercayaan Go Tik Swan untuk membangun Art Gallery Keraton yang kini dikenal dengan Museum Keraton Surakarta.
Setelah 10 tahun peresmian Museum, ia diangkat menjadi Bupati Anom dengan Gelar Raden Tumenggung oleh Pakubuwono XII.
Seiring berjalannya waktu, gelar yang didapatkannya semakin meningkat hingga ia mendapatkan gelar Panembahan, yang merupakan gelar tertinggi dalam sejarah Jawa.