Peran Jumantik di Solo Dinilai Mampu Tekan Kasus DBD
Pemerintah Kota Solo menggalakan Juru Pemantau Jentik ( Jumantik) untuk menekan kasus Deman Berdarah Dengue (DBD)
Penulis: Imam Saputro | Editor: Putradi Pamungkas
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Imam Saputro
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pemerintah Kota Solo menggalakan Juru Pemantau Jentik ( Jumantik) untuk menekan kasus Deman Berdarah Dengue (DBD).
"Jumantik ini cukup efektif, bahkan bisa membuat angka DBD di Solo menurun dalam tiga tahun terakhir," kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Purwanti, Kamis (17/1/2019).
"Jumantik ini ujungnya ke pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan kami nilai sangat efektif diterapkan di Solo, walaupun jumantik merupakan program nasional, "kata dia.
Pemantauan jentik tidak hanya dilakukan kader kesehatan, tetap dibantu koordinator jumantik tingkat RW dan pemilik rumah.
• Polda Jatim Tangkap Muncikari W di Jakarta Lalu Membawanya ke Surabaya untuk Diperiksa
Program ini sudah berlangsung sejak 2017, dengan rumah satu jumantik.
Koordinator jumantik, lanjut Purwanti, lantas mengecek pemantauan jentik oleh pemilik rumah seminggu sekali.
"Pengecekannya dilakukan melalui lembar pemantauan yang tertempel di bagian depan rumah, koordinator jumantik akan menindaklanjuti hasil pengecekan, jika dianggap perlu," jelasnya.
Meski jumlah kasus DBD menurun, Purwanti menegaskan, pihaknya tetap mewaspadai ancaman penyakit menular tersebut.
"Dalam rapat koordinasi (rakor) puskesmas selalu kami sampaikan, bahwa DBD harus tetap diwaspadai," kata Purwanti.
• Prabowo Mengaku Sempat Tegang Juga Saat Debat Pertama Capres
Hingga dua pekan tahun 2019 berjalan, belum ditemukan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Solo.
Dari catatan Dinas Kesehatan Kota Solo, angka kasus DBD di Solo menurun sejak 3 tahun terakhir.
"Kami bersyukur hingga saat ini belum ada laporan DBD, karena di beberapa daerah saat ini terjadi banyak kasus DBD " kata Purwanti.
Ia menerangkan tahun 2018 tercatat 24 kasus warga yang positif DBD.
• Anggap Tuntutan JPU Janggal, Kuasa Hukum Iwan Adranacus Minta Simulasi Motor Terpental 15 Meter
Angka tersebut turun drastis dari tahun sebelumnya, yakni 146 kasus.
Bahkan Kota Solo pernah mencatatkan angka tertinggi dalam lima tahun terakhir, yakni sebanyak 751 kasus pada 2016. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/sekretaris-dkk-solo-purwanti-2.jpg)