Mahathir Pilih China Dibanding Amerika Serikat: China Dekat dengan Kami

Perdana Menteri Malaysia Mahathir menuturkan dia sudah mempunyai sikap merespon rivalitas geopolitik dan ekonomi antara Amerika Serikat (AS) dan China

Editor: Fachri Sakti Nugroho
Kompas.com
PM Malaysia Mahathir Mohamad 

TRIBUNSOLO.COM - Perdana Menteri Malaysia Mahathir menuturkan dia sudah mempunyai sikap merespon rivalitas geopolitik dan ekonomi antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Dalam wawancara dengan SCMP seperti dilansir Jumat (8/3/2019), Mahathir mengatakan relasi dengan China bersifat kuat dan tidak statis.

Mahathir berkata Malaysia bakal mencari cara bekerja sama dengan Beijing alih-alih membiarkan mereka dilanda ketakutan sehingga mengaburkan pandangan pemerintah.

Beberkan Prediksi Media Luar, Fahri Hamzah: Prabowo akan Ikuti Jejak Mahathir Tampak Kelihatan Jelas

Di masa lalu, dia menjelaskan China menyebarkan komunisme ke kawasan Asia. Kali ini, Negeri "Panda" ingin menanamkan pengaruh melalui ekonomi.

Berdasarkan perspektif sejarah, Mahathir menuturkan China sudah menjadi tetangga mereka selama 2.000 tahun. Namun mereka tidak pernah ditaklukkan.

"Namun Bangsa Eropa datang pada 1509. Setelah itu dua tahun kemudian, mereka mencaplok Malaysia," ujar PM yang akrab dijuluki Dr M itu.

Dia berujar pemerintahan Pakatan Harapan yang baru berusia 10 bulan itu bakal membuat keputusan independen berhadapan dengan mitra dagang terbesar dibanding terpengaruh ucapan negara lain.

Selain itu, dalam wawancara di tengah kunjungan ke Filipina, Mahathir mengungkapkan saat ini AS adalah negara yang paling tidak bisa diprediksi.

"Saat ini, Malaysia harus menerima bahwa China dekat dengan kami. Dengan pangsa pasar besar, kami tentu ingin meraup keuntungan dari pertumbuhan China," paparnya.

Ada yang Singgung Usia Maruf Amin sebagai Cawapres, Jusuf Kalla: Pak Mahathir Lebih Tua

Karena itu secara ekonomi jika disuruh memilih AS atau China, PM berusia 93 tahun tersebut bakal condong ke Beijing. Namun tidak demikian dengan politik.

"Tentu kami tidak tertarik dengan sistem pemerintahan yang sangat otoriter tersebut," beber PM yang pernah berkuasa pada 1981 hingga 2003 itu.

Dia juga mengomentari kekhawatiran bahwa China tengah melakukan diplomasi "jebatan utang" dan menciptakan jaringan negara peminjam.

Negara Barat mencontohkan Sri Lanka yang memutuskan menyerahkan kendali atas Pelabuhan Hambantota dengan masa sewa selama 99 tahun setelah gagal membayar utang.

Ditemui Maruf Amin, Mahathir Mohamad Minta Didoakan Agar Sukses Pimpin Malaysia

Mahathir menyatakan negara berdaulat berhak memutuskan untuk menerima pinjaman asing. Menurutnya, China melihat kesempatan memasuki area di mana mereka tidak punya, atau hanya sedikit perwakilan.

"Namun sebuah negara harus benar-benar memutuskan mana yang dibutuhkan oleh rakyatnya. Jika ada yang memutuskan meminjam uang banyak, itu masalah mereka," terangnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved