Mengenal Pisang Plenet, Kuliner Legendaris di Semarang yang Hingga Kini Rasanya Tak Berubah
Subandi pun bercerita, jajanan berbahan dasar pisang kepok tersebut tampaknya sudah ada sejak 1950-an.
Dua jenis tersebut bukan tanpa maksud, katanya, pisang kepok yang dibungkus dengan daun pisang menghasilkan rasa nikmat yang bisa jadi membuat orang ketagihan.
Dan memang benar, rasa manis pisang ketika menyentuh lidah khas bau daun pisang nampaknya dapat mengingatkan jajanan tempo dulu.
Kenapa tidak, jajanan pisang plenet tanpa sedikitpun tersentuh pemanis buatan ataupun pengawet makanan.
Hanya sebuah pisang yang dibakar kemudian di pipihkan dan dikasih sedikit isian langsung bisa dimakan.
• Pisang dan Jeruk Jadi Buah Wajib sebagai Sesajen saat Imlek, Ternyata Ini Maknanya
Manisnya bukan main, cobain saja.
"Awet biyek yo isine koyo kui. Ora tak ubah-ubah ninggali jaman semono. La tak kai coklat (seres) go pantes-pentes ben rodo koyo wong saiki, biyek yo rak ono," kata Subandi.
Setiap harinya, Subandi biasa mangkal di Jalan Pemuda dari pukul 14.00 - 24.00 WIB.
Terkadang ia berangkat lebih sore dan pulang lebih awal mengingat kondisi kesehatan dan ramai sepinya pembeli.
Dalam rata-rata perhari, Subandi mampu menjualkan pisangnya hingga 8 - 12 lirang.
Tiap satu lirangnya berisikan 12-14 biji.
Ia juga menyebutkan dalam momen-momen tertentu seperti lebaran hingga tahun baru, dirinya mampu menghabiskan 30 lirang dalam sehari.
Hal tersebut mengingat naiknya jumlah pembeli yang juga diikuti oleh jumlah pesanan.
"Nek penghasilan ora ngitung. Kabeh tak pasrahke ning mbok wedok, mung iso ngoro-ngiro enteke semono. Mbok wedok sing blonjo meneh. Paling akeh yo kui mau iso 30 lirang, kui mergo sing tuku biasane 5, 10 dadi 20, 30," jelas Subandi.
Kini, Subandi ingin terus meneruskan bisnis warisan darisang kakek selagi masih sehat. Ia juga sudah mengajak anak dan ponakannya untuk ikut serta menjajakan pisang plenet di Semarang.
Tercatat total 5 tempat pisang plenet dijajakkan.
Satu titik di Jalan Gajahmada, 2 titik di Semawis Pecinan, dan 2 titik di Jalan Pemuda.
"Pisang plenet onone mung ning Semarang. Sekeluarga sing dodolan. Saiki gerek limo, maune 12," pungkas Subandi. (Saiful Ma'sum)
Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Pisang Plenet Kuliner Legendaris di Semarang, Subandi Tetap Pertahankan Otentik Rasa