Breaking News:

Kisah Mbah Sumo Sukarelawan Pemadam Kebakaran Gunung Slamet: Tempuh Medan Berat dan Bekal Seadanya

Tubuhnya yang renta tak menyurutkan semangat Sumodiharjo (75) untuk bergabung dengan Tim Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Gunung Slamet.

Editor: Fachri Sakti Nugroho
(KOMPAS.COM/FADLAN MUKHTAR ZAIN)
Sumodiharjo (75) warga Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menjadi anggota Tim Karhutla Gunung Slamet Barat dan Selatan tertua. 

TRIBUNSOLO.COM - Tubuhnya yang renta tak menyurutkan semangat Sumodiharjo (75) untuk bergabung dengan Tim Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Gunung Slamet.

Sebagai warga yang selama ini menggantungkan hidupnya dari alam di sekitar lereng Gunung Slamet, Sumo merasa terpanggil untuk turut membantu memadamkan api. Baginya, hutan adalah rumah kedua.

Rumah Sumo sendiri berada di ujung permukiman Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Rumahnya berbatasan langsung dengan kawasan hutan di kaki Gunung Slamet.

"Saya diberitahu mendadak Sabtu (21/9/2019) pukul 19.00 WIB, diminta jadi penunjuk jalan, tim kedua katanya. Saya langsung mengiyakan saja," kata Sumo saat ditemui selepas mencari rumput di bawah Curug Jenggala, tak jauh dari rumahnya, Selasa (24/9/2019) sore.

Karhutla di Gunung Slamet Meluas, Ratusan Personel Dikerahkan Untuk Padamkan

Malam itu juga, tepat pada pergantian hari, Minggu (22/9/2019 dini hari, Sumo berangkat bersama 30 orang lain dari unsur TNI, Polri, dan warga lokal menyusuri hutan belantara. Sumo merupakan yang tertua di tim tersebut.

"Saya memutuskan berangkat agar yang muda-muda (dari warga lokal) mau ikut naik juga. Kalau yang muda tidak naik kan tidak pantas, wong yang tua saja berangkat," ujar Sumo.

Selain Sumo, kedua anaknya, Sikun dan Carisun juga turut bergabung dalam tim karhutla yang lain. Bahkan Carisun naik hingga dua kali.

Tak banyak waktu yang dimiliki Sumo untuk persiapan. Dua bungkus nasi, empat botol air mineral, dua bungkus mie instan, tiga bungkus kopi dan empat bungkus rokok menjadi bekal perjalanannya. Senjata tajam menyerupai sabit juga telah di genggaman tangan.

"Saya sampai sekitar pukul 10.00 WIB, perjalanan 10 jam, itu baru sampai Pos 8, belum sampai ke lokasi kebakaran, tapi api sudah kelihatan," tutur Sumo.

Sumo mengungkapkan dari total 31 anggota tim, hanya tujuh orang warga lokal yang berhasil mencapai lokasi, termasuk dirinya.

Halaman
123
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved