Berawal dari KDRT dan Cemburu yang Dirasakan Ibunya, Anak Tega Membunuh Ayahnya, Begini Ceritanya

Busani (45), seorang ibu rumah tangga asal Dusun Juroju Desa Sumbersalak Kecamatan Ledokombo akhirnya mendekam di rumah tahanan Mapolres Jember.

Berawal dari KDRT dan Cemburu yang Dirasakan Ibunya, Anak Tega Membunuh Ayahnya, Begini Ceritanya
Kolase surya.co.id/sri wahyunik dan dnaindia.com
3 FAKTA TERBARU Kasus Surono Dibunuh Anak & Istri di Jember, Berikut Motif dan Kronologi Lengkapnya 

Busani mengatakan, sikap Surono tetap tidak berubah.

Dia tidak menganggap dirinya sebagai istri.

Hal itu ditambah dengan kecilnya hasil kebun kopi yang diberikan kepada Busani.

Bahar (kanan kapolres) dan Busani (kiri kapolres) tersangka pembunuhan Surono saat rilis di Mapolres Jember, Kamis (7/11/2019).
Bahar (kanan kapolres) dan Busani (kiri kapolres) tersangka pembunuhan Surono saat rilis di Mapolres Jember, Kamis (7/11/2019). ((surya.co.id/sri wahyunik))

Sampai akhirnya, sekitar bulan Maret lalu, atau beberapa pekan sebelum Surono tewas, Busani 'curhat' kepada anaknya, Bahar.

Curhat itu antara lain perihal ketidaksukaan Surono kepada istri Bahar.

"Saya bilang kalau bapaknya tidak suka sama menantu, atau istrinya Bahar," tuturnya.

Selain cerita itu, Busani juga menuturkan kalau dirinya dipukul oleh sang suami.

Pemukulan dilakukan memakai sandal di bagian lengan atas kanan.

"Saya cerita kalau saya habis dipukul sampai lebam. Dipukul pakai sandal. Mendengar cerita saya, Bahar langsung bilang 'lek ngono, tak pateni ae (kalau begitu aku bunuh saja)'," kata Busani sambil menirukan ucapan anaknya ketika itu.

Mendengar perkataan anaknya, Busani pun tidak melarangnya.

Dia malah bilang 'terserah' dan 'ikhlas'.

"Saya bilang, 'saya ikhlas' dan 'terserah kamu'," tuturnya.

Menurutnya, keinginan membunuh Surono berasal dari Bahar.

Namun dia mengakui tidak melarangnya.

Kapolres Jember AKBP Alfian Nurrizal menunjukan barang bukti atas kasus dugaan pembunuhan Surono saat rilis di Mapolres Jember, Kamis (7/11/2019).
Kapolres Jember AKBP Alfian Nurrizal menunjukan barang bukti atas kasus dugaan pembunuhan Surono saat rilis di Mapolres Jember, Kamis (7/11/2019). ((SURYA.co.id/Sri Wahyunik))

Akhirnya pada suatu malam di akhir Maret 2019, Bahar menelepon dirinya.

Dia menuturkan sedang dalam perjalanan dari Bali untuk pulang ke rumahnya.

Bahar tiba di rumah itu sekitar pukul 23.00 WIB.

Busani menceritakan lagi, Bahar bertanya kepada dirinya apakah ayahnya sudah tidur.

Dia pun menjawab kalau Surono tidur di kamar rumah barat.

Bahar pun meminta palu.

"Dia minta pethil (palu). Saya kasih, tapi katanya terlalu kecil," imbuhnya.

Dia tidak mau memakai palu itu.

Busani kemudian menyuruh Bahar untuk mencari benda yang diperlukannya.

Bahar pun mendapatkan linggis berukuran panjang sekitar 65 centimeter, diameter 4 centimeter, dan berat 10 kilogram

Memakai linggis itu, Bahar menghabisi nyawa sang ayah saat tidur.

Dia memukul bagian wajah ayahnya.

Saat pembunuhan terjadi, Busani mengaku panik dan gemetar.

Dia pun memilih lari ke sungai yang berada di belakang rumahnya.

Dia berada di sungai itu sekitar 1,5 jam.

Dia kembali ketika suasana sudah sepi.

"Saya gemetar dan panik. Saya berlari ke sungai, dan berdiam di sana sekitar 1,5 jam. Saya kembali ketika sudah sepi. Saya mendengar suara kaki mondar-mandir," ujar Busani.

Keterangan berbeda

Penurutan ini sedikit berbeda dengan yang didapatkan SURYA.co.id dari pihak polisi.

Dari keterangan polisi, Busani sempat membantu membawa tubuh Surono ke bagian belakang rumahnya, yang menjadi lokasi penguburan.

Namun saat membantu itu, dia tidak kuat akhirnya melepaskan kaki sang suami yang digotongnya.

Melihat itu, anaknya meminta Busani tidak usah membantu menggotong jasad ayahnya.

Kembali ke cerita Busani, setelah mendengar suara kaki mondar-mandir, dia pun mengetahui kalau anaknya hendak mengubur jasad sang ayah.

Bahar juga meminta cangkul untuk memendang tubuh ayahnya.

Bahar juga menimbun lubang penguburan ayahnya memakai semen dicampur air.

Setelah selesai, Busani lantas meminta anaknya untuk membersihkan diri ke sungai.

Bahar juga membuang celananya ke sungai.

Setelah bersih, dia berganti celana.

Dia pun memakai baju dan jaket milik ayahnya.

Bahar lantas mencari uang milik ayahnya.

Dia mendapatkan uang tunai Rp 6 juta.

"Uang itu katanya untuk sangu pulang ke Bali," ujar Busani.

Sebelum pergi meninggalkan rumah itu, kata Busani, Bahar sempat minta maaf kepadanya.

Bahar menyebut dirinya anak durhaka.

Fakta Baru Penemuan Mayat Dikubur di Musala di Jember, Dua Benda Jadi Info Penting Pembunuhan

Busani pun menjawab pendek 'tidak apa-apa, tapi jangan diulangi'.

Bahar juga mewanti-wanti supaya Busani tidak menceritakan peristiwa malam itu kepada siapapun.

Bahar juga mengancam akan membunuh ibunya juga kalau sampai cerita ke orang lain.

Setelah mengantarkan ibunya ke rumah sang nenek yang tidak jauh dari rumahnya, Bahar pergi memakai sepeda motor ayahnya.

Dia juga mengantongi STNK sepeda motor itu.

Sebagai catatan, dari keterangan polisi, Busani beberapa kali memberikan keterangan yang berubah saat dimintai keterangan.

Tetapi polisi berkeyakinan jika Busani lah saksi kunci tewasnya Surono.

Sejak awal kasus ini terungkap, polisi menduga Busani mengetahui apa yang terjadi pada suaminya.

Karenanya, dari perempuan itu juga polisi menguak misteri tewasnya Surono.

Seperti diberitakan sebelumnya, Surono ditemukan terkubur di bawah musala di dapur rumahnya.

Penggalian kubur Surono dilakukan Senin (4/11/2019).

Polisi menemukan jasad Surono, bersama barang bukti linggis.

Linggis berada tepat di bawah jasad Surono.

Dari situlah polisi mencurigai jika Surono tewas karena dibunuh.

Pada Kamis (7/11/2019), polisi menetapkan tersangka pembunuhan Surono, yakni Bahar Mario dan Busani, anak dan istrinya.
(Sri Wahyunik) 

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Istri Surono Panik dan Gemetar Lihat Detik-detik Anaknya Bunuh Suaminya, Ini Cerita Lengkapnya

Editor: Reza Dwi Wijayanti
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved