Berita Wonogiri Terbaru
Dilanda Banjir, Ini 3 Tipe Banjir yang Sering Melanda Wonogiri saat Musim Penghujan
Penyebab banjir yang cukup merusak adalah banjir bandang, karena arus air yang kuat dari dataran yang lebih tinggi.
Penulis: Agil Trisetiawan | Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri
TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Sejumlah kawasan di Wonogiri menjadi langganan banjir saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Baru-baru ini, Kecamatan Pracimantoro dan Giriwoyo dilanda banjir bandang akibat hujan yang mengguyur kawasan tersebut.
Menurut Plt Kepala BPBD Wonogiri, Bambang Haryanto, banjir di Wonogiri disebabkan oleh tiga tipe banjir.
• Dua Desa di Wonogiri Masih Terendam Banjir Setinggi 1 Meter, BPBD Kerahkan 3 Pompa Penyedot Air
Yaitu banjir genangan, banjir bandang, dan banjir luweng.
"Banjir genangan itu disebabkan aliran sungai anak Bengawan Solo tidak bisa mengalir, karena di Sungai Bengawan Solo debit airnya cukup tinggi."
"Karena volume air terus bertambah dan aliran sungainya berhenti, maka air akan meluap," katanya kepada TribunSolo.com saat ditemui di kantornya, Selasa (10/3/2020).
• 7 Kecamatan di Wonogiri Terendam Banjir dan Dilanda Longsor, Warga Mengungsi hingga Buat Rakit
Kawasan yang sering terjadi banjir genangan ini berada di sejumlah kawasan di Kecamatan Selogiri dan Nguntoronadi.
"Kalau banjir genangan ini tidak akan lama, paling tidak sekitar 2 jam air akan surut," imbuhnya.
Penyebab banjir yang cukup merusak adalah banjir bandang, karena arus air yang kuat dari dataran yang lebih tinggi.
"Banjir bandang ini tergantung pada kontur tanah. Banjirnya singkat, tapi merusak," jelasnya.
• Banjir Landa Pracimantoro Wonogiri Setinggi 1 Meter, Puluhan Rumah hingga Lahan Pertanian Terendam
Bambang menerangkan, jika banjir bandang ini biasa terjadi dalam tempo waktu sekitar 1 jam, lalu air akan surut.
Kawasan yang sering terjadi banjir bandang ada di sejumlah kawasan di Kecamatan Eromoko dan Sidoharjo.
Faktor banjir terakhir adalah banjir luweng, yang saat ini terjadi di Desa Petirsari, Kecamatan Pracimantoro, dan Kelurahan Girikikis, Kecamatan Giriwoyo.
Menurut Bambang, kontur tanah di Wonogiri banyak batuan kapurnya, sehingga sulit untuk menyerap air.
• Dampak Jembatan Dungtemu Sepanjang 22 Meter di Wonogiri Ambrol, Warga Harus Memutar 5 Km
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/puluhan-rumah-di-sejumlah-kawasan-di-praci.jpg)