Solo KLB Corona

Kasus Positif Corona Sukoharjo Peringkat 4 Besar di Jateng, Pemkab Masih Kaji Penerapan New Normal

Pemkab Sukoharjo masih melakukan kajian mendalam terkait pemberlakukan new normal, mengingat jumlah kasus positif Covid-19 masih tinggi.

TribunSolo.com/Ryantono Puji Santoso
Suasana rapid test yang digelar Pemkab di Pasar Nguter, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (28/5/2020). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Pemkab Sukoharjo masih melakukan kajian mendalam terkait pemberlakukan new normal, mengingat jumlah kasus positif Covid-19 masih tinggi.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sukoharjo Yunia Wahdiyati mengatakan, trend kasus Corona di wilayahnya masih belum turun.

"Untuk pemberlakukan new normal kita masih menghitung, apakah kita sudah bisa menerapkan atau belum," katanya saat dihubungi TribunSolo.com, Jumat (29/5/2020).

Grha Wisata Solo Resmi Ditutup, 49 Pemudik yang Masih Dikarantina Diboyong ke Dalem Joyokusuman

Pemudik dari Surabaya Diseret ke Dalem Jayakusuman Solo karena Tak Patuh Karantina Mandiri di Rumah

"Karena kasus Covid-19 di Kabupaten Sukoharjo kan masih tinggi, dengan jumlah kumulatif 69 kasus," imbuhnya menjelaskkan.

Adapun angka 69 itu, menempatkan Kota Makmur di peringkat nomor 4 se-Jateng setelah Kota Semarang 90 kasus, Purworejo 76 kasus, dan Wonosobo 71 kasus.

Yunia mengatakan, dari sisi trend kasus, Sukoharjo belum bisa dikatakan aman.

Namun terkait new normal ini memiliki beberapa fariable lain yang natinya akan dikalkulasikan, sehingga skor di Kabupaten Sukoharjo apakah sudah masuk kriteria atau belum.

"Kita akan lihat juga dari sisi penularannya, dan beberapa fariable yang lainnya juga," imbuhnya.

Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian Rumah Sakit (RS) UNS, Tonang Dwi Ardyanto menambahkan, dari segi ilmu kesehatan wew normal harus memperhatikan beberapa faktor.

Pilkada Solo Diundur Desember 2020, Jumlah TPS Ditambah Jadi 1.800 Titik di Tengah Pandemi Corona

Pilkada Diundur Desember 2020, PSI Solo Tak Akan Cabut Dukungan Untuk Gibran Putra Jokowi

"Aturannya coba kita longgarkan dengan penurunan kasus dibawah 20 persen selama masa inklubasi 28 hari," katanya.

"Karena kalau tidak ada kasus selama dua kali masa inklubasi, itu pasti berat sekali, dan kalau terjadi, berati masa KLB sudah selesai," imbuhnya menjalaskan.

Selain itu, penerapan new normal juga harus berdasarkan data yang cukup valid, seperti pemeriksaan PCR minimal 1 persen dari jumlah penduduk.

Namun belum semua daerah sudah melakukan swab test massal hingga 1 persen dari jumlah penduduk, seperti di Sukoharjo.

"Bila new normal ini diterapkan, kami berharap ada konsistensi dan komitmen kuat dari pemerimtah agar ada korelasi dengan penegakan aturan mengenai protokol kesehatan," terang dia. (*)

Penulis: Agil Tri
Editor: Asep Abdullah Rowi
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved