Berita Solo Terbaru

Gunakan Panel Surya Selama 3 Tahun, Terminal Tirtonadi Solo Bangga Hemat Listrik hingga 30 Persen

Dikatakan oleh Kepala Terminal Tipe A Tirtonadi Solo, Joko Sutriyanto, bahwa pihaknya sudah 3 tahun menggunakan panel surya.

TribunSolo.com/Imam Saputro
ILUSTRASI : Siswa SM Al Firdaus Solo melakukan pengamatan panel surya yang baru dipasang sebagai media pembelajaran. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ilham Oktafian

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Publik Solo dihebohkan dengan kabar Pemkot yang kesulitan membayar tagihan listrik ke PLN.

Di tengah kabar tak mengenakkan tersebut, terminal terbesar di Kota Solo, Terminal Tipe A Tirtonadi Solo rupanya sejak lama mengembangkan inovasi untuk menghemat biaya listrik.

Inovasi yang dimaksud adalah panel surya.

Dikatakan oleh Kepala Terminal Tipe A Tirtonadi Solo, Joko Sutriyanto, bahwa pihaknya sudah 3 tahun menggunakan panel surya.

Ia mengklaim jika penggunakan panel surya mampu menekan angka pembayaran listrik.

Solo Bakal Gelap, Pemkot Tidak Bisa Bayar Tagihan Listrik 8,6 Miliar Akibat Uang Habis untuk Corona

Gegara Pemkot Tak Bisa Bayar Listrik karena Anggaran Habis, Wali Kota Rudy Ditelepon Gubernur Ganjar

"Awal tahun 2016-2017, tagihan listrik operasional keseluruhan di terminal tirtonadi hampir 250 juta per bulan," kata Joko kepada TribunSolo.com, pada Selasa (9/6/2020).

"Tetapi dengan keberadaan solar cell di Terminal Tirtonadi ini terbantu kurang lebih rata rata hampir 50 juta sampai-60 juta per bulan," terangnya.

Adapun salah satu teknologi alternatif tersebut, dikatakan Joko bergantung betul pada kondisi alam, dalam hal ini matahari.

Semakin terik sinar matahari, semakin hemat pembiayaan listrik yang dikeluarkan.

"Cuma kita besar kecilnya pengurangan pembayaran listrik dengan menggunakan solar cell ini tergantung dengan terik matahari," tuturnya.

"Pada saat matahari terik dapat mengurangi beban kita banyak sekali, tetapi kalau mendung ya konsekuensinya cuma beberapa persennya saja," ungkapnya.

Kendala lain penggunaaan panel surya di terminal yang berada di bawah naungan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) langsung adalah terbatasnya teknisi ahli jika sewaktu waktu terjadi kerusakan.

"Jika ada kerusakan spesifik perlu penanganan ahli kadang kita harus komunikasi dengan orang yang masang kemarin atau PT yang masang kemarin," katanya.

"Kalau untuk perawatan sudah kita siapkan," pungkasnya. (*)

Penulis: Ilham Oktafian
Editor: Asep Abdullah Rowi
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved