UT Surakarta Kampus Pilihan
Universitas Terbuka Surakarta Ternyata Kampus Online Pertama dengan Prinsip Pendidikan untuk Semua
Bahkan, sejak berdiri pada tahun 1984 UT selalu mengikuti perkembangan teknologi yang belum banyak diterapkan oleh universitas pada umumnya.
Penulis: Ilham Oktafian | Editor: Asep Abdullah Rowi
"Sejarah UT untuk men-sarjanakan guru dan masyarakat," paparnya.
• Pohon Beringin di Pasar Depok Manahan Ambruk, Timpa 1 Mobil Carry Merah, Tak Ada Korban Jiwa
• Diduga Dibunuh Rekan Bisnis, Pasutri Ditemukan Tewas Mengenaskan, Istri Sedang Hamil Tua
"Jadi pendidikan kita bersifat massal, kita tidak membatasi jumlah kelas karena tidak seperti sistem klasikal," tuturnya.
Lantaran hal tersebut, UT Surakarta memiliki mahasiswa yang lokasinya jauh dari Kota Solo.
"Karena menggunakan media, yang mencirikan kami adalah daya jangkau," ungkapnya.
"Ada yang dari Purwodadi, Wonogiri pelosok, tambahnya.
"Jumlah keseluruhan mahasiswa UT Surakarta hampir 7.000 mahasiswa, Kalau total 32.000 mahasiswa dengan daya jangkau ke pelosok indonesia hingga luar negeri," terangnya.
Lanjut Yulia, berkait dengan fakta tersebut, jika UT Surakarta mempunyai slogan unggulan yang menjadi pedoman sejak tahun berdiri.
"Bukan anda yang datang ke kampus tapi kampus yang mendatangi anda," terangnya.
Meski mempunyai perbedaan yang mendasar dengan Universitas Konvesional, namun pada prinsipnya UT tetap mempunyai beberapa kesamaan, utamanya dalam hal peraturan.
"Ada kesamaan juga, seperti adanya Tri Dharma perguruan tinggi, terkait dosen dan kenaikan jabatan, peningkatan mutu juga,"
"Sebagai perguruan tinggi kita terikat dengan aturan perguruan tinggi," tegasnya.
Persamaan yang lain adalah urusan administrasi.
UT Surakarta menggunakan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang sudah mencakup biaya SKS mata kuliah.
Untuk urusan UKT, UT Surakarta bisa disebut lebih terjangkau dengan Universitas pada umumnya.
Jika Universitas lain mematok biaya diatas Rp 5.000.000 per semester, di UT Surakarta biaya UKT paling murah hanya kurang dari Rp 1.500.000 saja.
"Itu bentuk kontribusi kita untuk meningkatkan pendidikan di masyarakat," tutup Yulia. (*)