Berita Karanganyar Terbaru
Diterjang Corona dan Cuaca Buruk, PKL di Karanganyar Minta Keringanan Biaya Retribusi
PKL di Karanganyar Berharap mendapatkan keringanan biaya retribusi karena dihantam Cuaca dan Corona.
Penulis: Muhammad Irfan Al Amin | Editor: Mardon Widiyanto
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Muhammad Irfan Al Amin
TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Pedagang Kaki Lima (PKL) Karanganyar merasakan dampak kondisi ekonomi sedang berat lantaran cuaca buruk disertai corona.
Selama ini, jumlah nominal retribusi yang dipungut, sebesar Rp 2.000 untuk lapak kecil dengan tenda ukuran 3X3 meter.
Tenda dengan ukuran 3X4 meter akan ditarik biaya retribusi sebesar Rp 3.500.
PKL yang biasa menggelar lapak di sejumlah area publik meminta keringanan biaya kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar.
Mereka berharap mendapatkan keringanan biaya retribusi pada pemangku kebijakan di Kabupaten Karanganyar.
Baca juga: Nekat Nongkrong Sampai Dinihari, Gerombolan Pemuda di Karanganyar Kocar-kacir, Dibubarkan Polisi
Koordinator Lapangan PKL Taman Pancasila, Iriyanto mengatakan, bahwasanya jumlah retribusi tersebut cukup memberatkan mereka.
Hal itu dikarenakan biaya retribusi ditarik setiap hari sehingga apabila diakumulasikan selama sebulan menjadi Rp 105 ribu.
"Yang membuat kami berat adalah kondisi pandemi dan PSBB yang membuat pengunjung juga khawatir untuk berkunjung," katanya kepada TribunSolo.com.
Baca juga: Meski PSBB Buat Penghasilan PKL Turun, Pemkab Karanganyar Tetap Tarik Retribusi
"Walaupun kami sudah menjaga dan menerapkan protokol kesehatan, tapi masyarakat masih khawatir," imbuhnya.
Selain karena efek pandemi Covid-19, kondisi musim hujan juga memberatkan para PKL dalam menggelar lapak.
"Saat di musim hujan, pelanggan juga mulai malas keluar, dan kalau hujan kami mendorong gerobak jadi susah," ujarnya.
Iriyanto juga menjelaskan, biaya retribusi tidak akan ditarik apabila PKL tidak membuka lapak.
Baca juga: Satpol PP Karanganyar Datangi Pesta Hajatan Tanpa Banyu Mili saat PSBB, Kursi Langsung Dilipati
"Kalau sudah terlanjur dorong gerobak keluar dari rumah, laku atau tidak laku ya tetap bayar," jelasnya.
Meskipun demikian, Iriyanto masih bersyukur karena tetap diberi kesempatan untuk berdagang setelah sebelumnya pada masa PSBB jilid 1 diliburkan.
"Alhamdulillah walau libur dua minggu, masih ada subsidi sebesar Rp 300 ribu dan cukup untuk meringankan beban," syukurnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/pkl-berjualan-di-sepanjang-jalan-lawu-kabupaten-kara.jpg)