Breaking News:

Update Gunung Merapi

Nekat Tinggalkan Pengungsian, Warga Balerante Klaten Pulang ke Rumah, Pemerintah Pun Desa Pasrah

Warga meninggalkan tempat pengungsian Gunung Merapi di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Rabu (3/2/2021).

TribunSolo.com/Mardon Widiyanto
Pengungsi lansia meninggalkan Tempat Evakuasi Sementara (TES) di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten dengan diantarkan menggunakan mobil dinas, Rabu (3/2/2021). 

Mereka diberangkatkan dari tempat penampungan pengungsi sementara (TPPS) ke rumah masing-masing pukul 10.00 WIB.

Pemerintah Desa setempat memulangkan warganya dari pengungsian karena kondisi wilayah barat laut Merapi terpantau aman.

Baca juga: 241 Warga Tlogolele Boyolali Masih Bertahan , Pemdes Berencana akan Pulangkan Pengungsi Besok

Baca juga: Aktivitas Gunung Merapi Menurun, Sejumlah Pengungsi di Desa Tegalmulyo Klaten Banyak yang Pulang

Sekretaris Desa  Tlogolele Neigen Achta Nur Edy Saputra mengatakan, pemulangan warga dari TPPS  ke rumah warga menggunakan mobil pikap milik relawan.

"Tadi pagi, kami telah memulangkan warga kami yang mengungsi di TPPS ke rumah masing-masing menggunakan mobil pikap milik relawan," ucap Neigen, kepada TribunSolo.com Minggu (31/1/2021).

Neigen mengatakan, pemulangan warga dari TPPS dilakukan oleh Kepala Desa Tlogolele.

Kepulangan warga pengungsi ke dukuh Klakah dan Jrakah juga berdasarkan rapat koordinasi di Aula Kecamatan Selo, Senin (22/1/2021) .

"Berdasarkan Surat dari Pemerintah Desa Tlogolele, kami memulangkan warga kami, selain itu, Kepala Desa juga menjamin bahwa wilayah barat laut Merapi aman, " kata Neigen.

Pemulangan warga pengungsi di Desa Tlogolele dicamtumkan pada Surat nomor 474/56/I/2021.

Baca juga: Begini aktivitas Pengungsian di Balerante Klaten Hilangkan Kejenuhan

Dalam surat itu, berisi tindak lanjut rapat koordinasi Senin (22/1/2021) lalu, di Aula Kecamatan Selo.

Rapat koordinasi diadakan BPPTKG dan BPBD Kabupaten Boyolali. 

Sementara dalam rapat tersebut dihadiri Camat Selo, Danramil Kecamatan Selo, Kapolsek Selo, Kades Tlogolele, FPRB Kabupaten Boyolali, Ketua PMI Boyolali, Ketua RAPI Boyolali, serta Perwakilan warga TSD 3.

Meskipun diizinkan pulang, warga tetap diminta kembali ke pengungsian jika status berubah menjadi tanggap darurat.

Untuk posko TPPS tetap buka sampai batas yang tidak ditentukan. 

Hal yang sama juga terlihat di Klaten, sejumlah pengungsi di Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten sudah mulai kembali ke rumah mereka masing-masing.

Menurut salah satu relawan di Desa Tegalmulyo Purnama, aktivitas Gunung Merapi paska erupsi pada Rabu (27/1/2021) sudah mulai menurun.

Sehingga sebagian pengungsi lebih memilih kembali pulang.

"Kemarin ada 130 orang, untuk malam tadi ada 97 orang, jadi menurun," katanya, Sabtu (30/1/2021).

Purnama mengatakan, aktivitas warga berangsur-angsur kembali normal.

Sebab, saat pagi sampai sore hari, warga dipengungsian banyak yang kembali melakukan aktivitasnya seperti mencari pakan ternak.

"Kalau pagi gitu mereka pulang untuk beraktivitas, dan kalau malam biasanya kembali lagi ke pengungsian," jelasanya.

Baca juga: Polres Klaten Ciduk 3 Pelaku Penipuan Berkedok Mobil Murah, Satu Tersangka Narapidana Kasus Narkoba

Baca juga: Update Corona Klaten 29 Januari 2021: Tambah 200 Kasus Baru, dan Ada 10 Orang Meninggal Dunia

Baca juga: Klaten Jadi Daerah Rawan Kena Erupsi Gunung Merapi, Status Tanggap Darurat Bakal Diperpanjang

Baca juga: Kecelakaan Karambol di Kartasura Sukoharjo, 1 Pengendara Sepeda Motor Asal Klaten Tewas

Dia menuturkan, aktivitas vulkanik gunung merapi masih nampak pada Kamis (28/1/2021) lalu, dengan turunnya hujan abu vulkanik tipis.

Meski sudah beberapa hari tidak terjadi hujan abu vulkanik, namun lahan pertanian maupun perkebunan milik warga masih ada yang tertutup abu vulkanik.

"Secara aktivitas merapi sudah tidak menunjukan guguran lagi," terangnya.

Aktivitas Gunung Merapi Dalam Sepekan

Gunung Merapi tercatat mengeluarkan guguran lava pijar sebanyak 230 kali, serta 71 kali guguran awan panas selama sepekan terakhir.

Hal itu terangkum dalam laporan catatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta sepekan terakhir, yakni pada rentang 22 Januari - 28 Januari 2021.

Rinciannya adalah guguran lava pijar Gunung Merapi teramati sebanyak 230 kali dengan jarak luncur maksimal 1.500 meter arah barat daya ke hulu Kali Krasak dan Kali Boyong.

Sementara untuk awan panas guguran terjadi sebanyak 71 kali dengan jarak luncur maksimal 3.500 meter arah Kali Boyong dan terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimal 70 mm dan durasi 240 detik.

Pada periode sepekan tersebut, cuaca di sekitar Gunung Merapi umumnya cerah pada pagi hari, sedangkan siang hingga malam hari berkabut.

Asap berwarna putih, ketebalan tipis hingga tebal dengan tekanan lemah. 

"Tinggi asap maksimum 750 m teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Kaliurang pada 25 Januari 2021 pukul 05.30 WIB," kata Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida, Jumat (29/1/2021).

JEJAK TERBAKAR – Luncuran awan panas saat Gunung Merapi meletus 27 Januari 2021 meninggalkan jejak hancur dan terbakarnya vegetasi di lereng sektor barat daya gunung. Secara visual jejak itu juga bisa dilihat dari Dusun Tunggularum, Dusun Turgo, Kali Boyong, dan Kaliurang, Sleman, DIY. Foto ini diabadikan dari Kali Boyong, Jumat (29/1/2021) pagi. Foto diambil dari Dusun Tunggularum, Wonokerto, Turi dan Dusun Turgo, Pakembinangun, Sleman, DIY.
JEJAK TERBAKAR – Luncuran awan panas saat Gunung Merapi meletus 27 Januari 2021 meninggalkan jejak hancur dan terbakarnya vegetasi di lereng sektor barat daya gunung. Secara visual jejak itu juga bisa dilihat dari Dusun Tunggularum, Dusun Turgo, Kali Boyong, dan Kaliurang, Sleman, DIY. Foto ini diabadikan dari Kali Boyong, Jumat (29/1/2021) pagi. Foto diambil dari Dusun Tunggularum, Wonokerto, Turi dan Dusun Turgo, Pakembinangun, Sleman, DIY. (TRIBUNJOGJA.COM / Setya Krisna Sumargo)

Hanik melanjutkan, analisis morfologi area puncak berdasarkan foto dari sektor barat daya tanggal 26 Januari terhadap tanggal 21 Januari 2021 menunjukkan adanya perubahan morfologi area puncak karena aktivitas guguran dan perkembangan kubah lava baru. 

Pada 25 Januari 2021 volume kubah lava 2021 terukur sebesar 157.000 m3. Kemudian, pada 28 Januari 2021 berkurang menjadi 62.000 m3 terutama akibat aktivitas guguran dan awan panas yang terjadi pada 26 dan 27 Januari 2021. 

Dalam minggu ini, kegempaan Gunung Merapi tercatat 71 kali Awan panas guguran (AP), 6 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 105 kali gempa Fase Banyak (MP), 1.148 kali gempa Guguran (RF), 122 kali gempa Hembusan (DG), dan 1 kali gempa Tektonik (TT). 

"Secara umum kegempaan internal pada minggu ini lebih rendah dibandingkan minggu lalu, sedangkan gempa di permukaan seperti gempa guguran dan awan panas meningkat," tutur Hanik. 

Deformasi Gunung Merapi yang dipantau dengan menggunakan electronic distance measurement (EDM) pada minggu ini menunjukkan adanya laju pemendekan jarak sebesar 0,4 cm/hari, menurun dari minggu sebelumnya. 

Pada minggu ini, terjadi hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi dengan intensitas curah hujan tertinggi sebesar 240 mm/jam selama 135 menit di Pos Kaliurang pada 27 Januari 2021. 

Pada 25 Januari 2021 pukul 16.30 WIB dilaporkan terjadi penambahan aliran di Kali Boyong, Gendol, dan Woro.

Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental tersebut, Hanik menyimpulkan aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi berupa aktivitas erupsi efusif.

Status aktivitas masih ditetapkan dalam tingkat siaga.

Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya, meliputi sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km. 

Sedangkan, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. 

Kubah Lava Menurun

BPPTKG Yogyakarta juga  mencatat, volume kubah lava Gunung Merapi mencapai 158.000 m3 pada 25 Januari 2021. 

Berikutnya, pada 28 Januari 2021 volume kubah lava menurun menjadi sebesar 62.000 m3.

Hal itu dikarenakan terjadi awan panas guguran yang cukup intens, yakni sebanyak 52 kali pada 27 Januari 2021.

"Karena lava yang keluar langsung menjadi guguran dan tidak sempat lagi membentuk kubah," ujar Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, dalam Siaran Informasi BPPTKG, Jumat (29/1/2021). 

Dengan peristiwa itu, Hanik melanjutkan, potensi bahaya Gunung Merapi ke depan secara umum berkurang.

Namun, yang masih perlu terus diperhatikan adalah adanya suplai magma dari dalam.

"Ini yang kita tidak pernah tahu. Namun, potensi awan panas ke depan bisa dibilang menurun," imbuhnya. 

Selain itu, dilaporkan pula data pemantauan seismik, deformasi, dan gas Gunung Merapi masih mengalami penurunan.

Tidak ada tekanan magma berlebih yang mencerminkan tambahan suplai magma.

Berdasarkan pengamatan visual Gunung Merapi pada Rabu (27/1/2021), terjadi awan panas guguran sebanyak 52 kali, amplitudo maksimal 77 mm, durasi 317,8 detik, estimasi jarak maksimum 3.000 m ke arah barat daya (hulu Kali Krasak dan Kali Boyong), tinggi kolom teramati tersapu angin kencang dari barat ke timur rata puncak. 

Hari berikutnya, ungkap Hanik, BPPTKG mencoba untuk mengambil gambar di lapangan.

Pada Kamis (28/1/2021), BPPTKG mengonfirmasi sejauh mana awan panas guguran yang terjadi pada sehari sebelumnya. 

"Dari sini ternyata dari pengamatan drone kami, awan panas yang terjadi untuk jarak maps 3.200 m dan untuk jarak miring 3.500 m, jadi ini titik terakhir awan panas. Jarak awan panas ini masih cukup jauh dari pemukiman yang berjarak 6,5 km," beber Hanik.

Baca juga: 2 Pesawat Tujuan Semarang Mendarat Darurat di Solo, Begini Nasib 113 Penumpangnya

Baca juga: Heboh Batu Diduga Meteor Jatuh Timpa Rumah Warga, Pemilik Rumah : Waktu Saya Ambil Masih Hangat

Ditanya mengenai dampak spesifik awan panas guguran tersebut, Hanik menjelaskan, pada area yang terlampaui oleh awan panas guguran, maka terbakar hangus dan terjadi kerusakan. 

"Area yang terlampaui oleh awan panas tentunya terbakar, rusak, itu sudah hangus. Ini merupakan ciri atau bahaya awan panas suatu erupsi gunung api," terangnya. 

Per Jumat (29/1/2021), distribusi probabilitas erupsi Gunung Merapi dominan ke arah erupsi efusif (43 persen).

Potensi erupsi eksplosif dan kubah-dalam pun diprediksi menurun signifikan.

Potensi bahaya saat ini, kata Hanik, berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya, meliputi sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km.

Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

Hanik menyampaikan, daerah di luar potensi daerah bahaya saat ini kondusif untuk beraktivitas sehari-hari. 

"Diharapkan dapat berlangsung seterusnya. Namun, jika terjadi perkembangan erupsi yang mengarah ke daerah tersebut setidaknya masyarakat sudah memanfaatkan waktu yang ada dengan baik. Hal ini sesuai dengan konsep living harmony dengan Merapi," tambahnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Laporan Aktivitas Gunung Merapi : 230 Kali Keluarkan Lava Pijar dan 71 Kali Guguran Awan Panas.

Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved