Breaking News:

Berita Solo Terbaru

Jelang 266 Tahun Perjanjian Giyanti, Putri PB XII Gusti Moeng Pertanyakan Keistimewaan Surakarta

Putri PB XII, GKR Koesmoertiyah meyakini PB III tidak turut serta dalam penandatanganan perjanjian tersebut.

TribunSolo.com/Ryantono Puji
Putri PB XII, GKR Wandansari alias Koesmoertiyah yang akrab dipanggil Gusti Moeng. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Adi Surya Samodra

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Paku Buwana (PB) III diyakini tidak menandatangani perjanjian Giyanti yang disodorkan kepadanya.

Perjanjian tersebut, seperti diketahui disahkan 13 Februari 1755.

Itu pun disebut-sebut PB III, Pangeran Mangkubumi, dan kongsi dagang Belanda VOC turut menandatangani perjanjian Giyanti.

Akibat perjanjian tersebut, Keraton Mataram kemudian terbagi menjadi dua, yakni Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta.

ILUSTRASI : Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang berada di Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo.
ILUSTRASI : Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang berada di Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo. ((Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya))

Kerbau Sakral Milik Keraton Solo Mati, Dibalut Kafan dan Didoakan Selama Prosesi Pamakaman

Sosok GKR Sekar Kencana Putri PB XII di Mata Adiknya: Dikenal Cerdas, Penyabar dan Pandai Karawitan

Putri PB XII, GKR Wandansari alias Koesmoertiyah meyakini PB III tidak turut serta dalam penandatanganan perjanjian tersebut.

Keyakinan tersebut didasarkan pada penelusuran dan penelitian terhadap arsip-arsip kuno.

Termasuk, yang tersimpan di Belanda maupun Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

"Kalau lihat di naskah perjanjian, PB III tidak tanda tangan," ucap perempuan yang akrab disapa Gusti Moeng, Rabu (10/2/2021).

"Itu perjanjian antara Mangkubumi dan kompeni," tambahnya.

Halaman
12
Penulis: Adi Surya Samodra
Editor: Asep Abdullah Rowi
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved