Ini Pesan Tingalan Jumenengan Dalem ke-32 Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Tengah Pandemi Corona

KGPH Mangkubumi kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan permaisuri Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas.

TribunSolo.com/Istimewa
Tingalan Jumenengan Dalem atau ulang tahun kenaikan takhta Sri Sultan Hamengku Buwono X, Minggu (7/3/2021). 

TRIBUNSOLO.COM - Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X memperingati Tingalan Jumenengan Dalem atau ulang tahun kenaikan takhta, Minggu (7/3/2021).

Mengingat tepat hari ini Ngarsa Dalem telah genap bertakhta selama 32 tahun lamanya berdasarkan hitungan tahun Masehi.

Tepatnya pada Selasa Wage, 7 Maret 1989 atau 29 Rejeb, Tahun Wawu 1921 lalu, KGPH Mangkubumi dinobatkan sebagai Raja ke-10 Keraton Kasultanan Yogyakarta.

KGPH Mangkubumi kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan permaisuri Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas.

Baca juga: Varian Baru Covid-19 Dikabarkan Sudah Masuk Indonesia, Begini Reaksi Sri Sultan Hamengku Buwono X

Baca juga: Begini Ramalan Sultan Hamengku Buwono I tentang 5 Wayang dan Negara Ini Akan Sejahtera

Penggedhe Kawedanan Hageng Punakawan Parwa Budaya Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi menuturkan, meski di tengah pandemi Covid-19, rangkaian upacara atau hajad dalem guna memperingati Tingalan Jumenengan Dalem tetap berjalan sebagaimana mestinya. 

"Adanya pandemi membuat keraton harus melakukan penyesuaian pada beberapa prosesi tanpa mengubah esensi dan filosofinya," terang GKR Mangkubumi, Minggu (7/3/2021).  

Putri pertama Raja Keraton Yogyakarta ini kemudian merinci rangkaian upacara untuk memperingati Tingalan Jumenengan Dalem.

Yakni prosesi ngebluk, ngapem, sugengan, serta labuhan di tiga titik lokasi.

Khusus pelaksanaan labuhan lawu yang biasa dilaksanakan sampai Hargo Dalem, kini disesuaikan hanya sampai di Cemoro Kandang.

"Kendati demikian, ubarampe yang disiapkan beserta prosesinya tetaplah sama," terangnya.

"Seluruhnya dilaksanakan dengan pembatasan-pembatasan, termasuk siapa saja yang akan terlibat atau bertanggung jawab," sambungnya.  

Selain itu, rentetan acara di luar hajad dalem seperti pameran dan simposium juga bakal digelar dengan adanya penyesuaian.  

Baca juga: Pria Ini Tak Segan Tukar Janda Bolong dengan Honda Brio, Identitasnya Ternyata Sultan dari Depok

Baca juga: Tanggapan Sri Sultan HB X soal Wacana Yogyakarta Bakal Lockdown saat Tahun Baru

Segala perubahan dan penyesuaian tak hanya dilakukan untuk memperingati pertambahan periode kekuasaan saja, melainkan juga dimaknai sebagai penanda bahwa zaman telah banyak berubah.

GKR Mangkubumi melanjutkan, pada kepimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono X, keraton senantiasa berupaya untuk tetap relevan di tengah perkembangan zaman. 

Misalnya keraton memanfaatkan segala teknologi informasi untuk syiar budaya secara lebih luas. 

Kekayaan budaya keraton baik benda maupun tak benda juga didokumentasikan agar masyarakat bisa mengenal, mempelajari, kemudian ikut menjaga. 

"Hal-hal ini tentu membutuhkan dukungan dari tenaga Abdi Dalem yang memiliki keahlian namun tetap menjunjung tinggi adat dan budi pekerti," tandasnya.

GKR Mangkubumi berharap geliat maju dari dalam keraton dapat menjadi semangat untuk membangun DI Yogyakarta yang semakin sejahtera namun tetap berbudaya. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Rangkaian Adat Tingalan Jumenengan Dalem ke-32 Sri Sultan Hamengku Buwono X Akan Digelar

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved