Berita Solo Terbaru
Kisah Halima, Bos Bubur Ayam Jakarta H5 Kawasan UMS: 10 Tahun Berjuang, Sekolahkan Anak Jadi Dokter
Dibalik kelezatan Bubur Ayam Jakarta H5 yang terletak di kawasan kampus 4 UMS menyimpan banyak kisah pemiliknya yang menginspirasi.
Penulis: Iqbal Fathurrizky | Editor: Ryantono Puji Santoso
Laporan wartawan TribunSolo.com, Iqbal Fathurrizky
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Dibalik kelezatan Bubur Ayam Jakarta H5 yang terletak di kawasan kampus 4 UMS menyimpan banyak kisah pemiliknya yang menginspirasi.
Halima, pemilik Bubur Ayam Jakarta H5 di Jalan Garuda Mas no 24 Ruko 5 Karangasem, Laweyan Surakarta mengaku mampu menyekolahkan anaknya menjadi Arsitek dan Dokter.
Bubur Ayam yang sudah berdiri sejak 2011 ini awalnya hanya berupa emperan yang mangkal di sekitaran kampus UMS.
Baca juga: Sarapan Enak di Solo : Bubur Ayam Jakarta H5 Karangasem, Lalu Tim Manakah Anda, Diaduk Atau Tidak?
Baca juga: Anaknya Diberi Makan Bubur dari Nasi Bekas, Cut Meyriska Kecewa dengan Perilaku Pengasuh Shaquille
Hingga pada tahun 2014, Halima berpikir untuk menyewa ruko di sekitar kampus 4 UMS.
“Awalnya dulu hanya emperan saja, lalu tahun 2014 nyewa ruko yang sekitarannya masih sepi hanya ada saya saja yang berjualan,” kata Halima kepada TribunSolo.com, Senin (9/8/2021).
Halima membuka usahanya dengan tujuan awal untuk membiayai anaknya kuliah.
Baca juga: Bioskop Cinema XXI The Park Mall Solo Baru Buka Besok, Minat Ngabuburit Sambil Nonton?
Dengan kegigihannya, Halima sukses membiayi kuliah anaknya.
Saat ini anakanya ada yang menjadi Arsitek dan juga Dokter.
“Alhamdulillah anak saya ada 3, yang 2 sudah berhasil, biaya kuliahnya dari jualan bubur ini,” kata Halima.
Baca juga: Warga Curhat saat Ngabuburit Banyak Pengendara Ugal-ugalan di Alun-alun Boyolali, Ini Langkah Polisi
“Anak saya pertama jadi Arsitek, yang kedua Dokter dan yang ketiga masih SMA,” sambungnya.
Halima juga mengaku selama PPKM ini usahanya tambah ramai.
“PPKM ini malah tambah ramai, karena pakai aplikasi Grab, Gojek, dan Shopee Food, jadi walaupun gak dine in orderan tetap ramai,” ungkap Halima.
Pilihan Kuliner Solo
Kota Solo dikenal menjadi surga kuliner dengan aneka macam jenisnya yang menggugah selera makan.
Ada yang cocok disantap saat pagi hari, siang hingga malam tiba.
Salah satu kuliner yang cocok dinikmati kala pagi hari adalah bubur ayam.
Teksturnya yang mudah dicerna membuat bubur ayam menjadi pilihan yang tepat sebagai pondasi untuk memulai rutinitas sehari-hari.
Salah satu bubur ayam yang legendaris dan menjadi serbuan pembeli karena dikenal kelezatannya adalah Bubur Ayam Jakarta H-5.

Baca juga: Jeritan Pengusaha Kecil di Balik PPKM Darurat: Tukang Bubur Didenda Rp 5 Juta, Tukang Cukur Bingung
Baca juga: Malam 1 Suro Kelabu Bagi Kakek Paiman, Biasa Dagangan Ludes, Kini Tak Ada yang Naik ke Gunung Lawu
Berdiri sejak tahun 2011, harga satu porsi bubur ayam ini hanya Rp 10 ribu saja.
Dengan harga yang cukup terjangkau tersebut, pembeli sudah mendapat semangkuk bubur ayam yang lezat ditambah krupuknya yang melimpah.
Bubur Ayam Jakarta H5 ini terletak di Jalan Garuda Mas no 24 Ruko 5, Kelurahan Karangase, Kecamatan Laweyan tepatnya di kawasan Kampus 4 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Ternya di balik namanya yang 'H5', karena karena nama pemiliknya adalah Halima.
“H5 itu nama saya, yaitu Halima, biar unik jadi disingkat seperti itu,” kata Halima, pemilik Bubur Ayam H5 kepada TribunSolo.com Senin (9/8/2021).
Selain bubur ayam, Halima juga menyajikan soto dan lontong sayur yang tak kalah enak rasanya dinikmati di pagi hari.
“Ada Soto dan Lontong sayur juga, tapi memang menu andalannya bubur ayam,” jelasnya.
Baca juga: Pasien Covid-19 di Sragen Resmi Diobati Ivermectin, Tapi Bagi Meraka yang Bergejala Ringan dan OTG
Setiap pagi warung yang berada di deretan ruko Gonilan itu, selalu dipatani pembeli.
Bahkan pada hari-hari tertentu seperti hari libur, pembeli harus sabar mengantre karena saking banyaknya mereka yang datang.
Selain makanan utama, ada berbagai sajian cemilan lain mulai gorengan, sate, kerupuk dan lain sebagainya untuk pendamping menyantap bubur ayam.
Baca juga: Manfaat Wedang Uwuh untuk Meredakan Batuk Berdahak, Pilih yang Mengandung Daun dan Buah Pala
Sensasi Bubur Samin
Masyarakat Kota Solo tentu tidak asing dengan bagi-bagi bubur samin saat ramadan seperti ini.
Namun, warga sepertinya harus tetap bersabar menahan kangen mencicipi rasa bubur samin.
Sebab, tahun ini Takmir Masjid Darussalam Jayengan, Solo tidak membagikan bubur samin yang legendaris itu.
Ketua Takmir Masjid Darussalam Jayengan, Muhammad Rosidi Muhdo mengatakan, tahun ini mereka tidak membagikan bubur terlebih dahulu.
Baca juga: Hari Pertama Puasa, Warga Berebut Bubur Samin Khas Banjarmasin di Masjid Darussalam Jayengan Solo
Baca juga: BERITA FOTO - Pembagian Bubur Samin di Masjid Darussalam Jayengan
Hal ini sama seperti Ramadan tahun lalu, saat pandemi corona.
Dia mengatakan, bubur khas masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan sudah ada dari tahun 80an.
Biasanya puluhan warga akan terlihat memenuhi halaman Masjid Darussalam di Jalan Gatot Subroto, Jayengan, Kecamatan Serengan, Solo.
Namun, tahun ini berdasarkan konsultasi dengan pihak kepolisian, tidak mengadakan bagi-bagi lagi seperti tahun kemarin.
"Disarankan untuk tidak dilakukan dulu (tahun ini)," ungkap Muhammad Rosidi Muhdo dikonfirmasi TribunSolo.com pada Minggu (11/4/2021) lalu.
Baca juga: Setiap Hari Masjid Darussalam Sediakan 1.000 Porsi Bubur Samin Sebagai Sajian Berbuka Puasa
Padahal, pada ramadan sebelum pandemi corona, panitia bisa menghabiskan 50 kilogram beras setiap harinya.
Itu dimasak menjadi 1200 porsi bubur.
Yang dibagi 200 porsi untuk takjil buka bersama di Masjid Darussalam.
Sedangkan 1000 porsi untuk dibagikan kepada masyarakat umum.
"Pembagian bubur itu karena pada 1965, langgar dirobohkan dan diganti dengan bangunan masjid ini," ungkapnya.
"Kemudian di 1985 panitia takmir masjid berikrar akan memberikan bubur samin ini dengan gratis kepada masyarakat umum sebagai rasa syukur," lanjutnya.
Baca juga: VIDEO - Wakil Wali Kota Solo Menyayangkan Keberadaan Bubur Samin, Kenapa?
Rosidi menyatakan, bubur banjar samin tersebut tidak sama dengan bubur biasa.
Bumbu khas dari Kalimantan dan ditambah minyak samin, dan rempah-rempah lainya.
Proses memasak bubur samin biasanya dimulai pukul 11.00 WIB sampai 15.00 WIB.
Namun, karena tidak diadakannya tahun ini, Rosidin mengungkapkan, bahwa kegiatan masjid untuk saat ini terbatas dan menerapkan protokol kesehatan sangat ketat.
"Sekarang semua kegiatan di meminimalisir, jadi semua menggunakan prokes," tutupnya.
Dia mengatakan, terkait adanya bubur samin ini tak lepas dari warga keturunan Banjar, Kalimantan Selatan yang tinggal di kawasan tersebut. (*)