Berita Boyolali Terbaru
Jembatan Putus Tak Dibangun Tahun Ini, Warga Simo Boyolali Gigit Jari, Terpaksa Cari Jalan Lainnya
Kepala DPUPR Boyolali, Arief Gunarto menyatakan sebenarnya telah mengusulkan anggaran untuk membangun jembatan.
Penulis: Tri Widodo | Editor: Asep Abdullah Rowi
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Warga yang jembatannya ambrol sehingga akses terputus di Desa Pentur, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali harus gigit jari.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Boyolali, Arief Gunarto menyatakan sebenarnya telah mengusulkan anggaran untuk membangun jembatan.
Sebelumnya rencananya bakal langsung dikerjakan pada Perubahan APBD Boyolali 2021.
"Tapi setelah kita berdiskusi, kalau tetap menggunakan anggaran dari Perubahan, nanti jatuhnya (Waktu pelaksanaannya) pas musim hujan," kata Arief, kepada TribunSolo.com, Jumat (27/8/2021).
Baca juga: Nasib Sarwanto, Lelah Pulang Kerja, Motor Satria FU Satu-satunya Disikat Maling di Kamar Kos Grogol
Baca juga: Nekatnya 3 Pria Ini, Palsukan Miras Impor Mahal dengan Cukai Palsu, Kini Berkas Lengkap dan Ditahan
Pasalnya, saat ini Perubahan APBD Boyolali tahun 2021 masih dalam tahap pembahasan.
Jika pertengahan September baru digedok, paling cepat pekerjaan baru dimulai akhir September atau Oktober.
Pasalnya, begitu anggaran digedok, pekerjaan tidak langsung dikerjakan.
Butuh proses, administrasi yang musti dilengkapi.
"Masih perencanaan, lelang, hingga pengumuman lelang yang butuh waktu," ucap Arief.
Agar waktunya lebih longgar dan tidak diterjang hujan, pihaknya bakal membangun jembatan tersebut pada anggaran murni 2022.
"Untuk nilai (anggaran) masih dihitung, karena kami masih perlu melakukan pengukuran di lapangan untuk menentukan kebutuhan pembangunan jembatan itu," kata Arief.
"Tapi untuk membangun jembatan, paling tidak akan kami alokasikan lebih dari 1 miliar," imbuhnya.
Jembatan Putus
Aktivitas warga tersendat gara-gara jembatan penghubung di Desa Pentur, Kecamatan Simo putus.
Bahkan warga harus memutar sejauh 3 kilometer dengan melalui desa lainnya.
Dari pantauan TribunSolo.com, jembatan tersebut kini tak bisa dilewati.
Seorang warga Ngatmin, mengaku jembatan ini sangat vital bagi masyarakat.
Jembatan yang juga menjadi akses terdekat truk material dari Merapi dan ke daerah lain.
Baca juga: Sisi Lain Penjual Telur Gulung di Solo, Bingung Belikan Kuota Internet Buat Anak yang Belajar Online
Baca juga: Peluang Bisnis Bergelimang Uang di Boyolali : Usaha Sapi Perah, Sebulan Bisa Raup Jutaan Rupiah
"Ya harapannya jembatan ini segera diperbaiki," ujarnya kepada TribunSolo.com, Kamis (26/8/2021).
Apalagi, lanjutnya jembatan ini juga merupakan jalur ekonomi.
Petani dan peternak selalu melewati jembatan ini dalam mengangkut hasil pertanian dan peternakan ayam.
"Ada jalan lain, tapi kalau petani yang jalan kaki kan kasihan kalau harus memutar melalui Desa Walen," ucapnya.
Kepala Desa Pentur, Maskuryadi membenarkan jika jembatan ini sangat penting bagi ekonomi warga.
Pihaknya pun sebenarnya sudah mengusulkan pembangunan jembatan sejak jembatan ini rusak pada musyawarah perencanaan pembangunan desa (Musrenbangdes) tahun lalu.
"Sebelum jembatan ini ambrol sudah dilakukan penutupan, tapi oleh warga dibuka kembali," katanya.
Jembatan penghubung antar Dukuh Pentur-Bangsan Karanganom, Desa Pentur, Kecamatan Simo ambrol, Rabu malam (25/8/2021).
Ambrolnya jembatan itu terjadi saat sebuah truk sebuah truk dump bermuatan pasir melintasi jembatan yang sudah rapuh itu.
Baca juga: Nekatnya 3 Pemuda Klaten, Buat Rokok Tingwe dari Tembakau Gorila di Rumah, Lalu Dijual via Medsos
Baca juga: Biang Kerok yang Bikin Harga Cabai Anjlok, Pedagang di Sragen : Sejak PPKM dan Hajatan Dilarang
Akibatnya, truk bermuatan pasir itu terperosok kedalam sungai Kedung Puser, Desa Pentur, Kecamatan Simo.
Beruntung, kepala truk yang berada di atas, sehingga tak ada korban jiwa dalam ambrolnya jembatan ini.
"Truk bisa dievakuasi, namun pasir muatan truk tidak bisa diselamatkan," ujarnya.
Putusnya jembatan sepanjang 12 meter dengan lebar 3 meter ini memang tidak menyebabkan warga terisolir.
Namun, putusnya jembatan ini mengharuskan warga yang akan keluar masuk Dukuh harus memutar sejauh kurang lebih 3 kilometer melalui Desa Walen, Kecamatan Simo.
"Begitu juga kami yang akan ke Kantor Desa, harus memutar. Karena lokasi Kantor Desa di Dukuh Pentur itu," jelasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/enghubung-yang-putus-di-desa-pentur-kecamatan-simo.jpg)