Breaking News:

Berita Wonogiri Terbaru

Kesaksian Warga Lihat Ngerinya Angin Ribut di Wonogiri: Panik Dahan Pohon Besar Menimpa Gedung SD

Peristiwa ambruknya dahan pohon beringin yang menimpa gedung SD Negeri Karangtengah di Desa Jaten, Kecamatan Selogiri masih diingat warga sekitar.

TribunSolo.com/Erlangga Bima Sakti
Buku koleksi perpustakaan SD Negeri Karangtengah, Wonogiri basah setelah disapu hujan dan angin ribut. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Erlangga Bima Sakti

TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Peristiwa ambruknya dahan pohon beringin yang menimpa gedung SD Negeri Karangtengah di Desa Jaten, Kecamatan Selogiri masih diingat warga sekitar.

Warga yang menyaksikan kejadian itu, Wahyu Setyo Nugroho (30) mengaku masih merasa ketakutan bila mengingat kejadian yang terjadi pada Jumat (24/9/2021).

Memang, rumahnya yang hanya terletak di sebelah timur SD dan hanya berjarak kurang lebih 20 meter membuatnya melihat jelas akan kejadian itu.

Baca juga: Disapu Angin Kencang, Atap Sekolah di Wonogiri Rusak: Gapura Remuk Tertimpa Pohon 

Baca juga: Tak Banyak yang Tahu, Mitos Sabtu Bagi Warga di Kedung Ombo : Muncul Angin Kencang & Ombak Tiba-tiba

"Pertama itu ada hujan, terus ada angin, saya langsung mengawasi pohon beringin itu karena memang khawatir, ukurannya besar soalnya," kata dia kepada TribunSolo Sabtu (25/9/2021).

Tak berselang lama hujan itu reda, namun kata dia, hujan itu kembali dengan intensitas lebih lebat dan angin lebih kencang.

Sebelum robohnya dahan pohon itu, menurut keterangannya atap-atap rumah warga sudah banyak yang berterbangan, ngeri.

Baca juga: Rentetan Cuaca Buruk di Wonogiri, Seusai Banjir Bandang Kini Angin Kencang dan Pohon Tumbang

Rumahnya pun tak luput dari kerusakan, asbes yang meneduhi teras rumahnya tertimpa pohon mangga yang ada di sebelah utara rumah yang ia tinggali bersama istri.

"Pertama itu ambruk ke sekolah, suaranya jelas kemrasak, selang beberapa detik ambruk kedua kearah jalan, yang ketiga juga ke arah jalan, memang tiga kali," jelasnya.

Saat kejadian itu, dia bersama istri merasakan panik yang luar biasa, tak hanya karena saat itu hujan deras juga karena peristiwa seperti itu baru dialaminya pertama kali selama 30 tahun ia tinggal disana.

"Setelah kejadian itu, semuanya tertutup entah kabut atau apa, yang jelas tidak kelihatan, sempat mikir apakah kiamat itu seperti itu," kata Wahyu menambahkan.

Sesaat setelah reda, banyak warga yang berdatangan untuk membersihkan sisa-sisa reruntuhan pohon.

Rumah Wahyu pun tak luput dari kerusakan, ia terpaksa harus mengganti enam lembar asbes untuk atap teras rumahnya yang pecah.

Untuk genteng ia mengaku minta kepada saudara yang masih memiliki sisa untuk dipasang di rumahnya.

"Sampai saat ini masih was-was karena pohonnya cukup besar dan tua, rumah saya juga dekat dari situ," ungkap dia. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved