Berita Solo Terbaru
Suporter Persis Solo Diamankan Polisi karena Konvoi, Gibran Kecewa: Sudah Dipanggil Kok Gitu
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka kecewa dengan suporter Persis Solo karena nekat konvoi jelang laga Derby Mataram, Selasa (12/10/2021) sore.
Penulis: Fristin Intan Sulistyowati | Editor: Ryantono Puji Santoso
Dan di tahun itu pulalah, romantisme Persis Solo dan PSIM Jogja bermula.
Pemerhati Sepak Bola Surakarta, Ardian Nur Rizki, mengatakan, meski dua klub tersebut saling beradu gengsi, ada momen mereka tetap sudi berkolaborasi.
"Meski bersaing sengit dan saling beradu gengsi, kedua tim tetap sudi berkolaborasi demi kepentingan yang lebih mulia, yaitu muruah sepak bola Indonesia dan perjuangan bangsa Indonesia terhadap Belanda," kata Ardian kepada TribunSolo.com.
PSIM Jogja pernah membantu Persis Solo ketika pengurus Laskar Sambernyawa dipermalukan orang-orang Hindia Belanda.
Itu bermula saat PSSI-nya Hindia Belanda, Nederlandsche Indie Voetbal Bond (NIVB) mengajak Persis Solo melakukan laga eksibisi.
"Setelah adanya Stadion Sriwedari, sepak bola Solo mulai menggeliat, juga prestasi Persis Solo. Animo khalayak terhadap sepakbola di Kota Solo saat itu luar biasa," ucap Ardian.
Singkat kata, publik mulai simpatik dengan Persis Solo.
Ingat pula, sejarah berdirinya Persis Solo berawal dari tim pribumi yang merasa dianaktirikan oleh tim-tim bentukan Sinyo Belanda.
"Pemerintahan kolonialisme terkesan tak suka melihat Persis mulai populer. Mereka lalu mengajak menggelar laga eksibisi antara (Persis) Solo dan Belanda," tambahnya.
Baca juga: Pesan DPP Pasoepati Jelang Persis Solo vs PSIM Jogja: Tidak Ada Konvoi, Tetap Tonton dari Rumah Saja
Baca juga: Rivalitas Persis Solo vs PSIM Jogja : Dari Kolonial Belanda & Kampiun Empat Musim Beruntun
Persis Solo menerima ajakan itu.
Tiket laku keras.
Namun, kabar buruk datang.
"Beberapa hari jelang laga dilaksanakan, NIVB membatalkan secara sepihak rencana uji tanding melawan Persis," ucap Ardian.
NIVB membatalkan secara sepihak. Alasannya ? Mereka diduga ingin membuat Persis Solo kehilangan muka di depan publiknya sendiri.
Pembatalan itu membuat Persis Solo kebingungan. Tiket sudah kadung terjual keras. Mau tidak mau laga tetap 'harus ada', entah melawan siapapun.
Persis Solo kemudian coba mengontak manajemen PSIM Jogja untuk meminta bantuan.
Tentunya sebagai lawan dalam laga eksibisi.
"Ketika itu, pengurus PSIM kalang kabut mengumpulkan pemain yang di zaman itu, tentu punya pekerjaan utama di luar sepak bola, seperti penjual makanan, atau kerja di pasar," ucap Ardian.
"Mereka semua kemudian dikumpulkan lalu berangkat ke Solo. Akhirnya, Persis Solo melawan PSIM setelah batal melawan Belanda," imbuhnya.
Laga melawan PSIM Jogja tidak membuat publik kecewa.
Saat itu, PSIM Jogja memang tergolong tim kuat.
Laga pun digelar di Stadion Sriwedari.
"PSIM tidak mau Persis kehilangan muka. Mereka datang dengan segala macam keterbatasan," ujar Ardian.
Menilik romantisme itu, Ardian berharap laga Persis Solo vs PSIM Jogja di Stadion Manahan, Selasa (12/10/2021) bisa dinikmati semua penonton.
"Terlepas dari laga 2 x 45 menit nanti, saya berharap, kita semua bisa menikmati dan memaknai laga ini dengan luhur," kata dia.
"Derby Mataram itu melampaui sepak bola. Derby Mataram harus menjadi teladan bagi seantero insan sepak bola di Indonesia dalam menciptakan rivalitas yang bermartabat," tambahnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/gibran-derby-mataram.jpg)