Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Viral

Cerita Korban Banjir Bandang di Batu Lolos dari Pusaran Air, Naik ke Kayu Besar yang Menimpa Kepala

Kejadian ini diakibatkan oleh tingginya curah hujan di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas yang berada di lereng Gunung Arjuno.

Suryamalang.com/kolase Benni Indo/PUSDALOPS KOTA BATU
Peristiwa banjir bandang di Batu yang menghayutkan 15 orang pada Kamis 4 November 2021 

TRIBUNSOLO.COM - Banjir bandang menerjang Kota Batu di Jawa Timur, Kamis (4/11/2021), pukul 14.00 WIB.

Kejadian ini diakibatkan oleh tingginya curah hujan di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas yang berada di lereng Gunung Arjuno.

Baca juga: Update Korban Dampak Banjir Bandang di Kota Batu, Petugas Telah Temukan 7 Jasad Korban

Keberuntungan masih dialami Sugiono, warga Dusun Sambong, Desa Bulukerto, Kota Batu.

Pasalnya ia merupakan korban yang berhasil selamat dari kejadian ini.

Sempat mengira hujan biasa

Dilansir dari Surya.co.id, air yang setinggi dadanya saat itu hampir saja menenggelamkan Sugiono beserta istri dan anaknya di dalam rumah.

Saat hujan turun, Sugiono tidak mengira akan terjadi banjir besar yang meluluh-lantakan rumahnya.

Sugiono dan keluarganya menganggap hujan yang turun pada Kamis (4/11/2021) sore itu adalah hujan biasa.

Namun perkiraannya salah. Ketika ia sedang menikmati acara televise di dalam rumah bersama istri dan anaknya, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang datang begitu cepat.

Air banjir juga datang dengan cepat tanpa disadari oleh Sugiono.

Air yang berwarna cokelat itu masuk ke dalam rumahnya. 

“Saya merasakan getaran, saya tidak menyadari banjir sebesar itu,” katanya.

Banjir tidak sekadar air, tapi juga membawa lumpur dan kayu.

Material itu menghancurkan rumahnya.

Selamat setelah tertimpa kayu besar

Sugiono juga sempat tertimpa kayu besar yang terbawa arus.

Upayanya untuk keluar rumah tampak sulit karena arus air memutar sehingga menyulitkan dirinya bergerak.

Diakui Sugiono, di tengah kesulitan melepaskan diri dari kayu besar itu, ia tiba-tiba bisa mengangkat kayu dan berlindung di atasnya.

“Istri dan anak saya juga menyelamatkan diri ke atas kayu,” ungkapnya.

Setelah berhasil menyelamatkan diri di atas kayu, Sugiono dan istrinya berupaya keluar dari rumah. Kali ini tantangan yang dihadapi berbeda lagi.

Di tengah ketegangan menyelamatkan nyawa, ia harus berpikir bagaimana caranya bisa keluar rumah.

Rumahnya rata dengan tanah

Air yang terus menerus menggerus temboknya akhirnya menjebol tembok.

Dari situlah ia kemudian bisa keluar dan menyelamatkan semua anggota keluarganya.

Tidak ada yang tersisa dari rumah milik Sugiono.

Rumahnya telah rata oleh tanah, pun barang-barangnya, tidak ada yang sempat diselamatkan.

Baca juga: Reaksi Keluarga Ternyata Gilang Tewas Akibat Kekerasan di Menwa UNS : Dada Sesak Tahu Kenyataan Itu

Tetangganya tewas

Sugiono dan keluarganya masih bisa selamat, tetanggnya yakni Wiji dan Sarif, tidak senasib seperti Sugiono.

Pasangan suami istri itu meninggal dunia akibat banjir bandang yang menerjang rumanya.

Rumah Wiji dan Sarif hanya berjarak 1 meter saja.

Wiji ditemukan meninggal dunia di bawah timbunan material lumpur dan kayu yang berjarak sekitar 1 Km dari rumahnya.

Pun Sarif, di temukan tidak jauh dari lokasinya Wiji.

Sri Kusumastuti (43), tetangganya Sugiono juga menceritakan pengalaman pahitnya menyelamatkan nyawa beserta anggota keluarganya yang ada di rumah.

Saat banjir datang, Astuti sedang berada di dalam rumah, seperti Sugiono, Astuti tidak menyadari bahwa banjir bandang sedang menuju ke rumahnya.

Ketika luapan air berwarna cokelat dengan membawa material lumpur dan kayu datang, anaknya teriak.

“Mama, Allahu Akbar. Airny tinggi, mama!” ujar Astuti menceritakan kembali teriakan anaknya.

Mendengar teriakan itu, ia langsung menyadari sedang dalam bahaya banjir.

Ia lalu menggendong putrinya untuk menyelamatkan diri.

Namun bukan perkara mudah untuk bisa selamat.

“Arusnya itu memutar, jadi tidak mengalir. Saya kesulitan melepaskan diri,” katanya.

Teriakan minta tolongnya tidak terdengar oleh warga.

Astuti pun pada akhirnya menerjang arus untuk bisa keluar dari rumah.

Ketika bisa keluar rumah, ia dibantu oleh sejumlah warga lainnya.

Akhirnya, ia dan anggota keluarga yang lain selamat.

Di rumahnya, terencap lumpur setinggi sekitar 500 cm.

Petugas Telah Temukan 7 Jasad Korban

Peristiwa banjir bandang di Batu juga membuat Khofifah Indar Parawansa mengingatkan masyarakat tentang peringatan cuaca dari BMKG. 

Kabar terbarunya, petugas telah menemukan tujuh jasad korban banjir bandang di Kota Batu.

Tujuh warga tersebut terdiri dari Wiji (55), Sarif (60), Feri (30), dan Dian (3,5) warga Dusun Sambong, Desa Bulukerto.

Lalu Wakri (54) warga Desa Giripurno, Adi Wibowo (40) warga Jl Kartini Kota Batu dan terbaru Feri warga Dusun Cangar, Desa Bulukerto.

Baca juga: Kisah Pasutri Sudah 49 Tahun Menikah Baru Memiliki Akta Perkawinan, Ternyata Ini Penyebab Sebenarnya

Evakuasi masih dilakukan oleh petugas bersama masyarakat hingga Jumat siang.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, Agung Sedayu menjelaskan, Petugas masih melakukan evakuasi material di titik lokasi banjir bandang.

BPBD Batu juga mencatat ada 23 warga yang terdampak kerusakan rumah.

Sementara enam lainnya masih dalam pencarian.

"Warga terdampak kerusakan rumah 23 orang," tegas Agung.

Sugiyono, seorang warga Dusun Sambong mengatakan, banjir kali ini adalah yang terparah sepanjang ia tinggal di Dusun Sambong. Hujan deras yang terjadi biasanya hanya mengakibatkan banjir kecil.

Pasalnya, aliran sungai di dekat rumahnya merupakan sungai tidak aktif. Hanya ada aliran air ketika hujan deras terjadi.

"Baru kali ini saya melihat yang paling parah," paparnya.

(Surya)

Sumber: Surya
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved