Breaking News:

Berita Solo Terbaru

Ngerinya Pelecehan Seksual di Kampus Solo : Mulai Eksibisionis Sampai Dosen Minta Foto Tanpa Jilbab

Sejumlah kasus pelecehan seksual terjadi di kampus dan lingkungan tempat kerja di Kota Solo, namun tidak dilaporkan oleh korban ke kantor polisi.

TribunSolo.com/Aji Bramastra
Foto ilustrasi : Pegiat hak perempuan di Solo, SPEK-HAM mengungkap sejumlah kasus pelecehan seksual terjadi di Kota Solo, tapi korban tak berani melapor. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Fristin Intan Sulistyowati

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Sejumlah kasus pelecehan seksual terjadi di kampus dan lingkungan tempat kerja di Kota Solo, namun tidak dilaporkan oleh korban ke kantor polisi.

Hal itu diungkap oleh organisasi Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia atau SPEK-HAM Surakarta.

Baca juga: Dekan FISIP Unri Resmi Berstatus Tersangka Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswi

Manager Divisi Pencegahan Penanganan Kekerasan Berbasis Masyarakat SPEK-HAM, Fitri Haryani mengungkapkan, ada belasan kasus terjadi selama dua tahun terakhir.

Namun, kasus itu tak banyak diketahui orang, karena korban rata-rata takut membawa ke jalur hukum. 

"Dari pengakuan korban, mereka tidak mau speak up, biasanya karena takut dikucilkan," terang Fitri.

Fitri menjelaskan, bentuk pelecahan seksual itu macam-macam.

Ada pengadu yang diminta dosennya untuk mengirim foto tanpa pakai jilbab.

Ada juga teror pelaku eksibisionis di lingkungan kampus.

"Bahkan ada juga yang sampai diajak untuk hubungan seks," katanya.

Fitri menyebutkan, korban ada yang berasal baik kampus swasta maupun perguruan tinggi negeri di Kota Solo.

Dalam kasus pelecehan di dalam kampus, banyak korban yang tak melapor ke pihak kepolisian lantaran menempuh mediasi dengan pihak kampus.

"Korban biasanya memilih upaya mediasi di kampus. Mereka tidak berani melapor sampai proses kepolisian," ujarnya.

Sedangkan untuk kasus pelecahan yang berada di lingkungan kerja, ada yang melaporkan dan pelaku telah jatuhi hukum penjara.

"Kalau yang di lingkungan pekerjaan, pernah dilaporkan ke kepolisian (direksi melakukan pelecehan pada stafnya),  putus 4 bulan kurungan penjara ditambah denda," jelas dia.  (*)

Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved