Cerita dari Solo
Asal-usul Nama Manahan di Solo : Bukan Tempat Berlatih Memanah, Tapi Rumah Ki Ageng Pamanahan
Kata Manahan sebuah kelurahan di Solo diyakini berasal dari tokoh masyarakat setempat bernama Ki Ageng Pemanahan.
Penulis: Agil Trisetiawan | Editor: Aji Bramastra
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Stadion Manahan Solo menjadi ikon baru Kota Solo, dengan bangunannya yang modern dan menjadi salah satu stadion paling megah di Indonesia.
Bagi yang belum tahu, Manahan sendiri merupakan nama kelurahan tempat di mana stadion yang awalnya dibangun oleh Keluarga Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto ini, berdiri.
Baca juga: Sejarah Karanganyar: Cerita Tentang Pertemuan Pangeran Sambernyawa & Nyi Ageng Karang di Pengasingan
di Solo, Kelurahan Manahan ada di Kecamatan Banjarsari.
Nah, soal asal-usul kata Manahan, ada dua rumor yang beredar di masyarakat.
Banyak warga mengira, Stadion Manahan ini dulunya merupakan tempat berlatih memanah.
Tapi, ternyata bukan itu maknanya.
Kata Manahan diyakini berasal dari tokoh masyarakat setempat bernama Ki Ageng Pemanahan.
Menurut kerabat Keraton Solo, KRMT L Nuky Mahendranata Nagoro, Ki Ageng Pemanahan merupakan tokoh yang disegani rakyat di kawasan itu pada tahun 1500-an.
Karena menjadi sosok panutan oleh masyarakat, tempat tinggal Ki Ageng Pamanahan menjadi sebuah padepokan.
Di sana masyarakat belajar nilai-nilai kehidupan dan religi.
Tempat tinggal Pamenahan pun akhirnya dikenal dengan nama Depok.
Depok, saat ini menjadi Pasar Burung di Kota Solo.
Pada masa Ki Ageng Pamenahan hidup itu, wilayah Solo masih dikenal sebagai Kerajaan Pajang.
Rajanya adalah Sultan Adiwijaya, atau yang lebih populer dengan nama Joko Tingkir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/stadion-manahan-solo-yang-bakal-menjadi-venue-piala-dunia.jpg)