Berita Terbaru Boyolali
Bikin Gerah Warga, Petani Minta Polisi Tindak Balap Liar di Flyover Mojorejo Ngemplak Tiap Bulan
Warga Desa Sawahan, Ngemplak, Boyolali agaknya sudah tidak tahan dengan balapan liar yang terus terjadi di flyover Mojorejo. Polisi diminta menindak
Penulis: Tri Widodo | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Para pembalap liar dan penontonnya di flyover Mojorejo, Desa Sawahan, Kecamatan Ngemplak, Boyolali dalam kepungan petugas, Minggu (6/3/2022).
Semua jalan untuk kabur sudah ditutup.
Ratusan sepeda motor itu kemudian diperiksa.
Hasilnya, puluhan kendaraan tak memiliki kelengkapan standar dan menggunakan knalpot brong.
Penindakan yang dilakukan petugas gabungan Polisi Polres Boyolali ini disambut gembira warga sekitar.
Baca juga: Potret Penggerebekan Balap Liar di Boyolali, Ratusan Motor Penuhi Jalan: Tak Bisa Kabur
Tak sedikit warga, khususnya bapak-bapak yang senang dan lega dengan penindakan itu.
Mario salah satunya. Warga Desa Sawahan, Kecamatan Ngemplak, itu mengaku jika aksi yang dilakukan remaja dari flyover yang menjadi jembatan penghubung antara Desa Pandeyan-Sawahan ini sangat meresahkan.
Sebab, para remaja itu hampir setiap sore nongkrong di pinggir jalan itu.
“ Awalnya nongkrong biasa. Tapi kadang langsung balapan, atau menjamping-jampingkan sepeda motor dengan suara bising itu,” jelasnya kepada TribunSolo.com, Senin (7/3/2022).
Dia mengatakan, banyaknya remaja yang memadati kanan kiri badan jalan membuat pengendara harus berjuang saat melintas.
Baca juga: Nasib Para Pembalap Liar dan Penontonnya di Boyolali, Kocar-kacir Sembunyikan Motor di Parit Sawah
Selain itu, pengendara juga dibikin ketir-ketir, jikalau tertabrak oleh remaja yang melakukan aksi freestyle.
“ Ya takut, orang kita lagi jalan, tau-tau dari depan ada yang menjampingkan motor,” jelasnya.
Sugiman, salah satu petani berharap penindakan yang dilakukan Satlantas Boyolali tak kali ini saja.
“ Kalau bisa jangan hanya sekali saja. kalau bisa ya sebulan sekali itu diadakan. Supaya tidak ada lagi remaja yang nongkrong dan jamping-jampingan,” jelasnya.
Karena memang, aksi remaja ini cukup menjengkelkan terutama petani yang menggarap sawah di kanan kiri jalan itu.
“ Kalau mau jalan itu susah. Apalagi kalau membawa alat, seperti traktor atau Combine (pemotong padi), mau jalan susah,” jelasnya. (*)