30 Kumpulan Kata Bijak Pramoedya Ananta Toer, Ingatkan Kembali Makna Kehidupan
30 Kumpulan Kata Bijak Pramoedya Ananta Toer, mengingatkan kita kembali dengan makna kehidupan.
Penulis: Tribun Network | Editor: Eka Fitriani
TRIBUNSOLO.COM - Pramoedya Ananta Toer merupakan sosok penulis produktif Indonesia yang cukup disegani.
Selama hidupnya, Pramoedya Ananta Toer berhasil menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing.
Didalamnya, juga cukup banyak kumpulan kata-kata bijak yang membuat kita memahami makna hidup.
Tidak heran, kadang kata-kata yang dituliskam Pram juga sering mengkritik pemerintah lantaran saat itu kondisi politik Indonesia sedang tidak stabil.
Baca juga: 30 Kumpulan Kata Bijak Bunda Teresa, Jadikan Pengingat Agar Jadi Manusia yang Lebih Baik
Baca juga: Kata Bijak untuk Memberi Semangat Kerja, Bisa Dibagikan ke Rekan Kantor agar Tetap Termotivasi
Pram menuliskan buku dengan banyak kebijakaanaan yang dapat dinikmati kata per kata.
Bagi Anda pecinta karya Pram, pasti paham kata-kata apa saja yang membangkitkan semangat maupun yang menberikan wejangan.
Beirkut sederet kata-kata bijak Pramudya Ananta Toer yang tertulis di bukunya.
Ini bisa membuat Anda bermawas diri dengan apa yang sudah dilakukan. Berikut rangkumannya:
1. ”Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai."
2. ”Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri." (Jejak Langkah 1985)
3. ”Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit." (Anak Semua Bangsa 1981)
4. ”Tak ada satu hal pun tanpa bayang-bayang, kecuali terang itu sendiri." (Anak Semua Bangsa 1981)
5. ”Jarang orang mau mengakui, kesederhanaan adalah kekayaan yang terbesar di dunia ini: suatu karunia alam. Dan yang terpenting diatas segala-galanya ialah keberaniannya. Kesederhaan adalah kejujuran, dan keberanian adalah ketulusan." (Mereka Yang Dilumpuhkan 1951)
6. “Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai." (Bumi Manusia 1980)
7. ”Kami memang orang miskin. Di mata orang kota kemiskinan itu kesalahan. Lupa mereka lauk yang dimakannya itu kerja kami." (Rumah Kaca 1988)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Pramoedya-Ananta-Toer-fgfghj.jpg)