Berita Sukoharjo Terbaru

Saat Emak-emak Pranan Berada di Garis Depan : Melalui Dapur Sehat, Bebaskan Anak dari Stunting

Emak-emak di Pranan mendampingi ibu hamil, anak-anak hingga meluncurkan Program Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) di Kampung Keluarga Berkualitas.

Tayang:
Penulis: Asep Abdullah Rowi | Editor: Naufal Hanif Putra Aji
TribunSolo.com/Asep Abdullah Rowi
Emak-emak di Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Mereka mendampingi ibu hamil dan anak balita demi memangkas stunting. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Asep Abdullah Rowi

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Siang itu, sejumlah emak-emak tengah asyik berbincang di pendopo Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo.

Terdengar membicarakan soal calon pengantin, ibu hamil, anak-anak hingga Program Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) di Kampung Keluarga Berkualitas.

"Jadi gimana pendampingan dan pengawasan makanan ibu-ibu hamil dan balita, jalan to?," seloroh Endang Purwantini, Jumat (9/9/2022).

Sejurus kemudian, Umi Wafiroh, Ririn Latifah dan Indah Safitri langsung menyahut, jika pengawasan dan pendampingan kepada ibu-ibu dan anak-anak berjalan dengan lancar.

"Aman Buk, banyak yang kemudian mengerti bahaya stunting," katanya mereka serempak.

Emak-emak mendampingi warga di Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Di mana di setiap rumah memiliki kolam ikan dan ternak ayam. Hasilnya untuk makan demi memenuhi protein hewani.
Emak-emak mendampingi warga di Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Di mana di setiap rumah memiliki kolam ikan dan ternak ayam. Hasilnya untuk makan demi memenuhi protein hewani. (TribunSolo.com/Asep Abdullah Rowi)

Ya, pertemuan itu salah satu yang biasanya digelar secara rutin, tak hanya di pendopo kelurahan, tetapi di rumah-rumah penduduk secara bergiliran.

Itu kata Endang, sebagai ikhtiar untuk menjaga komponen di desa yakni ibu hamil dan balita agar tak terjerat stunting.

Dia menyadari, stunting atau kondisi gagal tumbuh pada balita akibat dari kekurangan gizi kronis itu, belum dimengerti secara menyeluruh olah seorang ibu.

Untuk itu emak-emak yang juga tergabung dalam Tim Penggerak PPK, Kader PPKBD, bidan desa, penyuluh KB, Bu RT hingga ibu rumah tangga umumnya, berada di garis terdepan

Terlebih setelah ada Program Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) di Kampung Keluarga Berkualitas, emak-emak tambah giat.

Dapur sehat sebenarnya sudah dilakukan sejak bertahun-tahun lamanya, tetapi dengan penekanan jargon itu sehingga membuat pendampingan semakin menggeliat.

Adapun dapur sehat menjadi solusi agar gizi anak terpenuhi dan terjaga.

"Kita keliling tanpa henti, tengok rumah ibu ini, kemudian lanjut ke yang lain," tutur Ririn.

"Dicek makananya gimana, menunya memenuhi gizi atau tidak, juga dalam kegiatan posyandu kita kasih contoh menu yang tepat," jelasnya.

Umi yang juga penguluh KB membenarkan, jika 'pasukan emak-emak' ini memiliki peran penting membebaskan kampung dari stunting.

Di Pranan kata dia, ada empat tim.

Setiap tim beranggotakan tiga orang emak-emak di antaranya ada bidan.

Tugasnya lanjut dia, mendampingi dan mengawasi keluarga, baik calon pengantin, ibu hamil dan mereka yang sudah memiliki anak balita.

"Kita catat dan pantau secara kontinyu, misal hamil ke berapa, suami merokok apa tidak, makannya gimana untuk dedek bayinya," jelasnya.

Baca juga: Bubur Lemu Khas Solo, Hidangan Tradisional yang Wajib Dicoba, Kaya Akan Kandungan Protein

Baca juga: Kisah Haru Bayi Kembar Siam Berhasil Dipisahkan, Kini Tumbuh Jadi Balita Cantik dan Terkenal

"Dari itu kan terlihat risiko stunting, jika berisiko apa yang harus dilakukan, kemudian dicarikan jalan keluar," aku dia.

Menurut Umi, itu bagian dari salah satu cara emak-emak di Pranan menekan angka stunting melalui bagian hulu.

Pasalnya kata dia, lebih baik mencegah, mengingat di Pranan ada sekitar 200 anak balita.

"Target kita 0 kasus, kini dari 200 itu ada sejumlah kasus stunting memang, itu pun ada satu ibu yang punya 4 anak, karena jarak melahirkan cukup dekat. Jadi pikiran terbagi-bagi ngurus anak," aku Umi.

Untuk itu lanjut dia, beberapa anak itupun mendapatkan pendampingan khusus, guna memutus rantai stunting.

Di Rumah Punya Ayam hingga Kolam Ikan

Menurut Umi, melalui empat tim pendamping, mereka rutin mengecek dapur, isi kulkas, hingga makanan yang disiapkan untuk ibu hamil dan balita.

Di mana selalu ditekankan, warga tak perlu gengsi dengan produk lokal di dalam kampung, sehingga bisa memanfaatkan yang ada di lingkungan sekitar.

Karena kata Umi, kebanyakan rumah memiliki ternak ayam hingga kolam lele hingga ikan.

Itu menurut dia, juga bagian dari pemenuhan dapur sehat, karena mengandung protein yang dibutuhkan untuk anak-anak.

"Kita selalu tekankan protein hewani, bisa dari telur, daging ayam hingga ikan. Jadi mereka ngingu dewe (pelihara sendiri) dan dimakan sendiri," jelas dia.

"Agar anak-anak suka dibikin bentuk yang unik-unik seperti nuget," akunya.

Emak-emak yang menjadi ujung tombak agar bebas dari stunting di Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Mereka memiliki komitmen kuat dalam membantu pemerintah.
Emak-emak yang menjadi ujung tombak agar bebas dari stunting di Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Mereka memiliki komitmen kuat dalam membantu pemerintah. (TribunSolo.com/Asep Abdullah Rowi)

Bahkan tak hanya pemenuhan protein hewani, banyak warga menanam sayur mayur sendiri di halaman rumahnya.

Seperti yang ditunjukkan emak-emak di sebuah rumah yang halamannya bak perkebunan sayur hingga buah-buahan, yakni milik Suharno.

Dari ujung ke ujung di rumah yang berada di lingkungan RT 1 RW 2 isinya tanaman sayur dan buah.

Termasuk tak ketinggalan, ada kolam dan kandang ayam.

"Ayamnya sudah banyak sekarang, mau makan telur tinggal ambil. Mau ikan juga tinggal serok," aku dia.

Apa yang lakukannya itu, ternyata menurut Pak Harno sapaan akrabnya, berdampak pada cucunya Yandra Gibran Utomo.

Anak yang baru 3 bulan di bangku SD itu, memiliki keahlian di atas rata-rata menggebuk drum hingga berani tampil di muka umum.

"Pentas di Hartono Mall 3 kali, di Solo Square juga beberapa kali. Kalau gak kuat mentalnya, gak mungkin berani kan," terang dia.

"Menurut saya sih, salah satunya gara-gara suka ikan, telur dan daging ayam. Kalau makan ikan itu paling sering," selorohnya diamini ibundanya, Wulan Kurnia Dewi.

Kades Pranan, Jigong Sarjanto mengungkapkan, jika peran emak-emang yang gesit dalam pendampingan kepada ibu hamil dan balita patut diacungi jempol.

Bagaimana tidak, emak-emak itu memastikan isi piring yang ada di dapur jangan sampai tak ada gizi dari lauk hewan, sayuran hingga buah.

"Emak-emak ini detail, kunci keberhasilanan penekanan kasus stunting. Tak banyak bicara, tapi tindakannya terlihat, demi bebas stunting," tutur dia.

Ahli Gizi dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, dr Budiyanti Wiboworini, Sp.GK menerangkan, apa yang dilakukan oleh emak-emak yang aktif di Pranan jadi contoh.

Di mana untuk menyongsong bebas stunting, tak hanya disosialisasikan dan dipangkas oleh pemerintah saja.

Tetapi masyarakat hingga lembaga swasta yang peduli atas hal itu, penting untuk bersama-sama mengatasi stunting.

"Harus jalan bersama, pemerintah tak bisa sendiri. Jadi jangan hanya menyandarkan kepada pemerintah saja," terang dia.

Lebih lanjut Budiyanti menuturkan, stunting tak bisa dianggap remeh atau sepele, karena dampaknya tak hanya pada fisik, tapi menentukan kualitas anak di masa depan.

Baca juga: 9 Kelebihan Telur Bebek Dibandingkan Telur Ayam yang Perlu Diketahui: Lebih Banyak Protein

Baca juga: Tips Menurunkan Berat Badan dengan Mudah: Kurangi Asupan Karbohidrat hingga Konsumsi Protein

"Jangka panjangnya membahayakan, tidak sekedar pendeknya. Itu mempengaruhi semua sistem metabolisme hingga kecerdasan anak. Sel jadi tak berfungsi maksimal," tutur dia.

Budiyanti menambahkan, itu sebabnya pemerintah benar-benar serius menanganinya, karena jika terus menerus kasus stunting menjerat anak-anak, akan menurunkan kualitas sumber daya manusianya (SDM).

"Tadi yang saya katakan, mempengaruhi kecerdasan. Anaknya kurang cerdas kan jadi SDM di negera ini turun. Untuk menyiapkan generasi emas harus atasi stunting," kata dia.

Untuk itu, menurut dia, sudah seharusnya setiap keluarga yang belum memenuhi gizi, untuk memperbaikinya, mulai dengan protein hewani hingga nabati.

"Terutama untuk mereka yang hamil, karena menjadi kunci memutus stunting," harap dia. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved