Berita Solo Terbaru
Mengenal Koperasi Srikandi : Isinya Istri Eks Napiter, Agar Tak Minder Bergaul di Tengah Masyarakat
Koperasi itu ternyata menjadi bagian dari program deradikalisasi yang dibentuk Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri.
Penulis: Tara Wahyu Nor Vitriani | Editor: Asep Abdullah Rowi
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tara Wahyu NV
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Di Kota Solo, kini ada Koperasi Srikandi.
Tak seperti biasa, di dalam koperasi beranggotakan istri-istri eks narapidana terorismes (napiter).
Tujuannya buat apa?
Koperasi itu ternyata menjadi bagian dari program deradikalisasi yang dibentuk Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri.
Pembentukan koperasi dipimpin Kadensus 88 Irjen Pol Marthinus Hukom, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo hingga Ketua Yayasan Gema Salam, Jack Harun.
Mereka tergabung dalam keanggotaan koperasi srikandi Gema Salam bertajuk "Wanita Indonesia Wanita Tangguh".
Marthinus menjelaskan, keberadaan Koperasi Srikandi merupakan salah satu keterbukaan secara sosial.
"Selama ini mereka cenderung menghabiskan waktunya di rumah untuk menjaga anak-anaknya dan tertutup," katanya kepada TribunSolo.com.
Baca juga: Tangkapan Besar 8 Teroris di Riau, Kadensus 88 Antiteror Irjen Marthinus Hukom : Bentuk Taaruf
Baca juga: 8 Terduga Teroris Ditangkap Densus 88 di Aceh, Jaringannya Masih Didalami
Dirinya menilai Koperasi Srikandi merupakan sarana yang tepat dalam program deradikalisasi.
Menurutnya, para Srikandi ini juga ingin berinteraksi lewat usaha dan bisnis.
"Ini suatu hal yang menguntungkan karena lewat usaha, bisnis jejaring sosial mereka terbuka, Selama ini mungkin tertutup hanya dalam lintas kelompok mereka," ucapnya.
Dikatakan Marthinus program deradikalisasi bukan hanya tanggung jawab Densus 88, tetapi juga eks napiter.
Dengan adanya Koperasi Srikandi, para istri-istri eks napiter tidak perlu lagi takut berinteraksi sosial.
"Mungkin selama ini mereka merasakan dilema karena tak sedikit masyarakat yang memberikan stigma sebagai keluarga napiter," ucapnya.