Berita Wonogiri Terbaru
Jejak Sejarah Perkebunan Serat Terbesar Hindia Belanda di Wonogiri: Onderneming Mento Toelakan
Wonogiri ternyata pernah menjadi wilayah penghasil serat terbaik di Hindia Belanda. Namun, kini bangunan tersebut tersisa peninggalan saja.
Penulis: Erlangga Bima Sakti | Editor: Ryantono Puji Santoso
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Erlangga Bima Sakti
TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Perusahaan perkebunan penghasil serat terbesar dan terbaik masa Hindia Belanda ternyata ada di Wonogiri.
Saat ini, banyak peninggalan yang menjadi bukti dan saksi kejayaan perusahaan itu.
Perusahaan tersebut dulunya dikenal dengan nama Onderneming Mento Toelakan yang artinya Perusahaan Mento Toelakan.
Lokasinya saat ini masuk di wilayah administrasi Desa Wonoharjo, Kecamatan Wonogiri Kota. Saat ini, nama Mento Toelakan menjadi nama dusun di desa tersebut.
Sesepuh desa setempat, Suparno Broto Sanjoyo (77) menceritakan berdirinya perusahaan itu bermula saat pengusaha-pengusaha Eropa mulai menanamkan modalnya di Indonesia.
Saat itu, perkebunan kopi, tebu maupun teh sudah tidak produktif yang kemudian diganti dengan tanaman serat yang dihasilkan dari tanaman randu, nanas dan rosela atau rami. Transisi itu terjadi sekitar tahun 1897-1910.
"Dengan berkembangnya waktu, banyak pemodal yang tertarik untuk menanam modal di Indonesia, sekitar tahun 1850-an, mereka berlomba-lomba menanam modal di Indonesia," kata dia, kepada TribunSolo.com, Rabu (21/9/2022).
Dia mengatakan, termasuk di Mento saat itu merupakan daerah yang cocok karena tanahnya tidak terlalu banyak mengandung air untuk tanaman penghasil serat.
Adapun lahan-lahan yang berada di Wonogiri bagian utara merupakan hak milik dari Mangkunegaran dan Kasunanan dan disewakan ke pemodal asing.
Menurutnya, perubahan serat itu mulai berdiri tahun 1910.
Adapun lahan perkebunan nanas yang digunakan seluas 1.000 hektar yang juga mencakup di wilayah Sukoharjo dan Karanganyar.
Baca juga: Kota Muenchen Angker Bagi Barcelona, Xavi Hernandez Cuek, Optimis Bisa Ubah Sejarah
"Jadi sebelum ada pabrik serat nanas itu sudah ada perkebunan di Mento, tapi tanaman kopi, kapuk, tembakau," jelasnya.
Selain perkebunan dan perusahaan itu, kata dia, disana juga terdapat perumahan Belanda. Adapun pekerja yang digunakan oleh perusahaan itu merupakan warga lokal.
Dia menerangkan, proses produksi serat itu bermula dengan penanaman pohon nanas. Setelah itu, ada masa petik daun nanas yang sudah tua.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Aktivitas-Onderneming-Mento-Toelakan.jpg)