Berita Sragen Terbaru

Waspada, Tercatat Sudah Ada 163 Kasus DBD di Sragen Sepanjang 2022, Paling Banyak Jangkiti Anak-anak

Kasus Demam Berdarah di kawasan Sragen perlu diwaspadai. Sebab, sudah ada ratusan orang yang terjangkit penyakit tersebut.

TribunSolo.com/Septiana Ayu Lestari
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen, Hargiyanto saat ditemui Senin (13/12/2021). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Terjadi peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sragen pada tahun 2022 ini. 

Peningkatan tersebut dilihat sejak tiga tahun terakhir dimulai dari tahun 2020 lalu.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen, Hargiyanto mengatakan jika hingga September 2022 sudah ada 163 kasus DBD. 

"Perkembangan kasus DBD sampai September ini, dari tiga tahun terakhir, 2022 ini paling banyak kasusnya," katanya kepada TribunSolo.com, Rabu (28/9/2022). 

"Sepanjang 2022 sudah ada 163 kasus, di 2020 ada 64 kasus, dan 2021 ada 94 kasus," paparnya.

Lanjutnya, meski kasus DBD meningkat, angka kematian pada tahun ini justru menurun. 

Tercatat pada tahun 2020 ada 2 kasus kematian, sedangkan tahun 2021 ada 1 kasus kematian, dan hingga September 2022 ini belum tercatat ada kasus kematian. 

Menurutnya, anak-anak merupakan kelompok usia paling rentan terjangkit DBD. 

"Sekarang merata, namun yang paling banyak masih anak-anak, iya anak-anak masih rentan," ujarnya.

Baca juga: Susul La Lembah Manah, Ternyata Gibran Juga Kena Demam Berdarah, Sakitnya Tak Hanya Positif Covid-19

Menurut Hargiyanto, penyebab meningkatnya kasus DBD di Kabupaten Sragen karena cuaca yang tidak menentu sepanjang tahun 2022.

"Penyebabnya karena musim yang tidak menentu, kadang hujan, kadang tidak hujan, otomatis telur nyamuk jadi nyamuk dewasa," terangnya. 

"Jadi kalau hujan terus mungkin telur akhirnya berpindah, kalau ini kemungkinan menetap jadi nyamuk bisa berkembang biak," tambahnya. 

Ia mengimbau agar masyarakat dapat menggalakkan aksi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). 

Selain itu, juga melakukan gerakan 3M plus, yakni mengubur, menguras, juga memanfaatkan kembali barang-barang tak terpakai. 

"Plusnya kita bisa menanam tanaman pengusir nyamuk, pakai slambu saat tidur, memakai lotion anti nyamuk dan juga memelihara ikan yang memakan jentik nyamuk," imbaunya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved