Berita Sragen Terbaru

Pimpin Prajuritnya di Papua, Danyonif 408 Sragen Bertaruh Nyawa, Ceritakan Baku Tembak dengan KKB

Ada cerita duka di balik kepulangan ratusan prajurit TNI yang tergabung dalam satuan Yonif Raider 408/Suhbrastha Sragen.

TribunSolo.com/Septiana Ayu
Prajurit TNI yang bertugas di Yonif Raider 408/Suhbrastha Sragen. Mereka adalah prajurit pilihan yang bertugas di Papua. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Ada cerita duka di balik kepulangan ratusan prajurit TNI yang tergabung dalam satuan Yonif Raider 408/Suhbrastha Sragen.

Pada September 2021 prajurit yang bertugas di Papua sebanyak 450 orang.

Namun, ketika kembali ke Sragen, prajurit yang pulang berjumlah 446 orang saja.

Komandan Yonif Raider 408/Suhbrastha, Letkol Inf Ade Afri Verdaniex mengatakan total ada 4 prajurit yang meninggal dunia di wilayah penugasan.

"Jumlah personel yang mengikuti kegiatan ada 450 orang, sampai dengan saat ini, seperti yang tadi saya sampaikan, ada 4 anggota kami meninggal di wilayah penugasan," katanya kepada TribunSolo.com, Kamis (29/9/2022).

"Di mana satu prajurit meninggal karena sakit, dan 3 prajurit lainnya meninggal dunia karena luka tembak," imbuhnya.

Ya, kala bertugas para prajurit Yonif Raider 408/Suhbrastha juga berhadapan dengan kelompok separatis atau kelompok bersenjata (KKB).

Sempat terjadi insiden adu tembak dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua yang ada di wilayah Kabupaten Puncak.

Prajurit Yonif Raider 408/Suhbrastha sendiri dibagi ke 11 pos yang ada di wilayah Kabupaten Puncak.

Dan insiden baku tembak terjadi di Pos Gome di Distrik Gome, Kabupaten Puncak yang dijaga 30-50 prajurit.

Baca juga: Lama Bertugas di Papua, Begini Momen Haru Para Prajurit TNI saat Pulang ke Sragen: Disambut Istri

Baca juga: Inilah Rumah Persembunyian Tokoh PKI DN Aidit di Solo : Dulu Bentuknya Joglo, Kini Berlantai Dua

"Ya, pada saat kami kontak, memang situasi di sana masih adanya kelompok separatis bersenjata , yang sifatnya adalah kriminal, mereka berusaha untuk melaksanakan teror kepada masyarakat, dengan cara menggunakan senjata," terangnya.

"Sehingga kami harus menghadapi mereka juga, sesuai dengan arahan Bapak Panglima TNI, bahwa untuk tidak ragu-ragu dalam melaksanakan tindakan terhadap mereka, apabila memang benar, mereka membawa senjata," tambahnya.

Hingga kepulangannya setelah bertugas selama 12 bulan, menurut Letkol Inf Ade Afri mulai dilakukan rekonsiliasi di wilayah Kabupaten Puncak.

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved