Berita Wonogiri
Hingga November 2023, Tercatat 5 Kasus Asusila Libatkan Guru di Wonogiri
Kasus pencabulan masih terjadi di Wonogiri. Ada berbagai modus yang dilakukan oleh para pelaku ini.
Penulis: Erlangga Bima Sakti | Editor: Ryantono Puji Santoso
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Erlangga Bima Sakti
TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Kasus asusila yang dilakukan guru pada muridnya masih saja terjadi di Wonogiri pada 2023 ini.
Diketahui, ada lima kasus pencabulan guru ke murid terjadi hingga November 2023 ini.
Ada berbagai macam modus yang dilakukan para pelaku ini.
Terbaru adalah S (50) guru di salah satu SMP di Wonogiri.
Guru tersebut diduga mencabuli siswinya di bus saat perjalanan pulang usai kunjungan wisata ke wilayah Jawa Timur beberapa waktu lalu.
Diketahui, kasus asusila yang melibatkan guru di Wonogiri tak hanya itu saja.
Sebelumnya seorang guru SD di Kecamatan Tirtomoyo K (38) yang berstatus PPPK menyetubuhi seorang siswi asal Kecamatan Kismantoro.
Selanjutnya yang saat ini masih dalam proses peradilan, adalah dua oknum guru di salah satu madrasah di Kecamatan Baturetno, mereka adalah M (47) dan Y (51) yang mencabuli 12 siswinya.
Sementara yang masih segar di ingatan adalah MU (42) seorang guru di salah satu SMP swasta di Wonogiri.
Guru tersebut menyetubuhi siswinya sendiri dan dilakukan di lingkungan sekolah.
Baca juga: Alasan Polisi Tak Tahan 4 Tersangka Kasus Dugaan Penganiayaan Gegara Turnamen Voli di Wonogiri
Baca juga: Pasca Insiden di Banyumas, Wonogiri Malah Buat Jembatan Kaca, Masuk di Rencana Revitalisasi WGM
"Kalau yang pasti kita sangat prihatin, keprihatinan ini kami bersikap tegas tidak ada toleransi," kata Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, Jumat (10/11/2023).
Menurut dia ketika saat proses pembuktian para guru yang tersandung kasus itu terbukti, ia memastikan akan menempuh jalur hukum.
Sikap tidak mentoleransi itu menurut dia juga untuk menimbulkan jera utamamya bagi masyarakat secara umum, agar tak melakukan perbuatan serupa.
"Tidak ada toleransi. Tapi tentu ada mekanisme yang dilalui, ada regulasi yang harus ditaati," jelasnya.
Pria yang akrab dengan sapaan Jekek itu mengakui kasus asusila yang melibatkan tenaga kependidikan di Wonogiri cukup tinggi.
Secara kelembagaan, Jekek menyebut telah mengambil langkah pembinaan, untuk bagaimana menciptakan guru sebagai profesi yang teladan dan profesional.
"Kalau masih ditemukan menjadi catatan dan evaluasi, kira-kira apa yang belum optimal," kata Jekek.
Menurutnya profesi guru merupakan profesi yang berbeda dengan profesi yang lain.
Sebab guru, bersinggungan langsung dengan anak-anak yang disitu dibutuhkan nilai tanggung jawab paling mendasar.
"Seperti tanggung jawab, kejujuran, integritas itu tangan pertama ada di guru, maka ketika guru melakukan kasus itu kita tidak mentoleransi. Tidak ada tawar menawar," pungkasnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Ilustrasi-Pencabulan-yang-menimpa-anak-SMA-Kini-Gibran-c.jpg)