Berita Boyolali
Bukan Pangeran Diponegoro, Ini Sosok Sebenarnya Patung Penunggang Kuda di Simpang 4 Karanggede
Patung itu menggambarkan sosok pria bersurban penunggang kuda, berjubah putih dengan tangan kanannya yang memegang senjata keris.
Penulis: Tri Widodo | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
Namun gundukan tanah itu sebenarnya adalah petilasan bekas galian tanah tempat bertapa pendem RM Sapardan yang kemudian menjadi Paku Buwono VI dengan Yudho Prawiro.
Selama tapa di dalam tanah, ibu jari mereka berdua diikat dengan tali wangsul benang lawe selama 41 hari.
Mereka duduk bersila dan posisinya berlawanan.
Yudho Prawiro menghadap utara dan Sapardan menghadap selatan.
Namun pada hari ke-35 badai puting beliung terjadi dan cahaya putih terpancar menuju tempat iru.
Pangeran Ontowiryo, nama muda Diponegoro dan Kyai Kuthuk Wasesa atau P. Ronokusumo dan pengikutnya kemudian membongkar pusara pertapaan itu.
RM Ontowiryo, RM Sapardan dan RM Yudho Prawiro yang memang sudah bersahabat lama dan masih memiliki hubungan saudara mengucap sumpah Atiroto.
"Berikutnya mereka membuat pasukan. Pasukan ini dari prajurit pilihan Surakarta, Yogyakarta dan pasukan Gagatan. Pasukan ini kemudian dikenal sandi pasukan Bulkiya," ujarnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Patung-Tumenggung-Prawirodigdoyo-di-Simpang-Empat-Karanggede-Boyolali.jpg)